Cara Enak Menulis Cerita Anak

Menulis buku anak itu ternyata cukup rumit dan sulit. Setidaknya ada tiga macam jenis buku yang mau ditulis. Cerita sains (pengetahuan), cerita Islami dan cerita kehidupan sehari-hari. Apakah ketiga buku tersebut berbeda cara menulisnya? Tentu saja berbeda. Secara isi ketiganya berbeda. Jadi bisa dipastikan kalau yang ditulis berbeda, cara menulisnya pun berbeda. Meskipun perbedaan tersebut tidak terlalu jauh. 

Baiklah mari kita tentukan dulu jenis cerita yang mau kita tulis. Lebih spesifik lagi dalam tulisan ini, kita bahas cerita anak umur 10 tahun ke atas. Cerita anak yang lebih banyak tulisan daripada gambarnya. Berbeda dengan cerita untuk anak PAUD atau siswa yang belum bisa baca. Sebab anak-anak dengan usia di bawah 10 tahun biasanya bentuknya cerita bergambar. Kalau cerita ini tetap bergambar namun tidak terlalu banyak. Gambar atau ilustrasi hanya menguatkan cerita, bukan tujuan utama.

Baiklah mari kita bahas cara enak menulis cerita anak. Bila cara ini tidak sesuai dengan Anda paling tidak cerita ini cocok untuk penulis. Kebetulan penulis diberi kesempatan menulis ketiga cerita di atas. Lalu apa yang dilakukan penulis? Penulis menerapkan apa yang disebut “Baca Tuh.” “Baca Tuh” adalah Baca, Cari Ide dan Tuliskan.

  1. Membaca cerita anak

Cara ini menurutku paling efektif. Orang yang jarang membaca cerita anak tentu bahasanya kaku. Di samping kaku, tentu logika anak susah didapat. Sebab cerita anak itu mempunyai spesifikasi sendiri. Menurutku menulis cerita anak itu unik dan penuh tantangan. Ada poin-poin yang perlu diperhatikan dalam menulis cerita anak. Salah satunya logika cerita. Ceritanya harus masuk akal dan tidak jelimet.

Oleh karena itu, dengan banyak membaca cerita anak, kita bisa kaya. Kaya dengan kosa kata, kaya dengan diksi dan kaya dengan variasi cerita. Jika memang tidak mampu membeli buku cerita anak, ada kok alternatif lain. Misal Anda bisa datang ke perpustakaan terdekat, ke toko buku atau berselancar di dunia maya. Banyak cara untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensi.

Dengan banyak membaca tentu kita terbiasa dengan cerita anak. Cerita kita tidak monoton dan kurang membumi. Misalnya kita menulis beberapa kisah dalam satu buku. Kalau tidak atau jarang membaca buku anak maka model atau tipe cerita akan mirip. Dan ini tentu sangat membosankan bagi anak-anak. Cara bercerita hampir sama, deskripsi hampir mirip dan kosa kata tidak berkembang. Ini sangat disayangkan kalau membuat wawasan anak tidak berkembang.

  1. Cari Ide

Ada banyak cara untuk mencari ide. Ada orang yang mencari ide di toko buku atau perpustakaan. Di sana mereka bisa membaca buku dan mengembangkan cerita tersebut. Ada yang mencari ide dengan diskusi bersama teman. Ide ada di sekitar kita. Pun bila ide sudah ditulis ulang, kita bisa recycle (mendaur ulang). Tentu saja dengan bahasa kita sendiri. Apakah boleh? Jelas boleh.

Namun pastikan bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa kita. Ide boleh sama namun cara penulisan harus berbeda. Cara mengembangkan harus lain. Agar kita terhindar dari plagiat. Buku-buku yang sejenis dijadikan referensi saja, bukan menjadi patokan. Dengan banyak referensi yang sejenis, cerita kita akan kaya. Kita bisa berimprovisasi dengan tetap tidak melencerng, atau salah jalur. Terutama cerita anak Islami. Cerita anak Islami harus sesuai kita suci dan sejarah yang ada.  

  1. Tuliskan

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan saat menulis cerita anak. Konsumsi cerita kita kan anak-anak, jadi perhatikan hal-hal berikut:

  • Memperhatikan Tata bahasa

Tata bahasa atau grammar tidak kalah pentingnya. Kalau cerita dewasa, kalimat panjang-panjang tidak masalah. Namun untuk anak-anak, tentu harus lebih pendek-pendek. Jangan sampai anak ngos-ngosan ketika menulis. Dia harus enjoy membaca. Jangan sampai baru paragraf pertama dia baca, langsung menyerah.

Jangankan anak-anak, kita saja kalau membaca kalimat yang panjang pasti lelah. Kita akan menyerah membaca kalimat yang panjang. Kemudian meninggalkan dan menyingkirkan tulisan kita tersebut. Oleh karena itu, tulisan yang pendek akan lebih nyaman dibaca.

Soal tata bahasa, harus dipadukan dengan kebutuhan. Artinya walau tata bahasa benar, namun tulisan harus luwes. Tidak ada tuntutan harus SPOK (Subyek, Predikat, Obyek dan Keterangan). Yang penting anak nyaman dan alur cerita tidak berubah. Meskipun tata bahasa tidak sesuai buku textbook atau buku pelajaran sekolah.                

  • Diksi Yang Tepat

Untuk menulis cerita anak, diksi itu penting. Sangat penting malah. Apa itu diksi? Diksi adalah pilihan kata. Bahasa anak tentu berbeda dengan bahasa orang dewasa. Bisa jadi orang dewasa paham dengan pilihan kata kita, namun anak-anak belum tentu. Bagaimana mengetahui diksi yang tepat? Kalau penulis ya lakukan cara pertama; banyak cerita anak.

Atau kalau memungkinkan berguru dengan penulis cerita anak. Penulis buku atau cerita anak yang sudah andal. Penulis yang sudah menerbitkan buku di penerbit mayor. Kenapa harus penerbit mayor? Tentu tahulah alasannya. Oke, diksi yang tepat. Contoh diksi yang tepat seperti apa?

Misalnya : kata Walaupun è diubah menjadi Meskipun

  • Hindari Typo

Typo atau kesalahan ketik itu sangat mengganggu. Apalagi cerita anak kok ada typo tentu membuat anak bingung. Ada seorang penulis menganggap typo itu bukan salah ketik. Namun penulisnya malas baca ulang dan merupakan kesalahan yang fatal. Bayangkan saja kalau typo terjadi pada nama tokoh, apa yang terjadi? Tentu cerita itu menjadi rancu. Apa iya tokohnya ada yang baru? Atau tokohnya berubah nama dan lain sebagainya.

Anak-anak akan menganggap bahwa cerita kita tidak logis. Padahal ‘hanya’ salah mengetik dan kita belum membetulkan. Namun akibatnya bisa fatal untuk anak-anak.

Misalnya:

Kata Mirna ternyata salah ketik menjadi Marni.

Apa yang tertulis itu akan merubah jalan cerita dengan kehadiran tokoh baru. Tokoh yang sekonyong-konyong koder hadir. Apa kita tidak kasihan dengan anak kalau begitu.

  • Lakukan Editing

Untuk menghindari banyak kesalahan di atas, kita harus melakukan editing. Baca ulang cerita kita. Tidak harus saat itu juga. Ada banyak penulis yang membiarkan, – bahasa mereka mengendapkan – cerita mereka. Jadi setelah ditulis, biarkan tulisan kita. Kita bisa diamkan beberapa hari. Kalau penulis biasanya satu atau dua hari, baru dibuka kembali.

Kenapa melakukan itu? Menurutku, biar kita lebih cermat membaca. Otak kita yang dipaksa bekerja untuk menulis cerita butuh istirahat. Kalau dia beristirahat beberapa saat, dia akan fresh pada waktunya. Saat kita membaca kembali cerita itu, akan mendapat sesuatu yang baru. Kita akan serius membaca dan lebih cermat. Sebab otak menganggap hal itu baru dan tidak melelahkan lagi.

Demikianlah, cara “Baca tuh” dalam menulis cerita anak. Mungkin cara ini terdengar biasa atau umum dilakukan. Namun cara ini berhasil penulis lakukan untuk membuat cerita anak dengan berbagai versi. Versi yang penulis sebutkan di atas. Terlebih cara ini paling enak dan tidak membuat enek dalam menulis. Bagaimanapun sampai detik ini, penulis masih belajar menulis cerita anak.

Akhir kata semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembaca.*)

Ditulis oleh: Joko Sulistya

4 thoughts on “Cara Enak Menulis Cerita Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *