Bye-Bye Minder!

When you see yourself clearly, with eyes full of love and acceptance, you hold space for others to meet you at your highest self”

 –Karly Ryan–

 

Quote itu, setidaknya menyadarkan akan sesuatu hal yang telah terjadi di sepanjang hidupku. Entah, bagi yang sekarang mengenalku, aku dikenal sebagai orang yang seperti apa? Namun sedikit cerita kalau boleh, aku dulu merupakan orang yang sangat minder, pemalu, selalu butuh teman dalam hal apapun, tidak suka perhatian. Culun, lugu! Ah, entah istilah apalagi yang pantas aku terima. Aku tak sanggup berandai-andai. Karena, aku pasti akan lebih masuk lagi dalam keterasinganku sendiri, di antara keramaian.

Hingga suatu saat, aku mengikuti presentasi seorang teman kuliah. Saat itu, sangat berbeda dari lainnya. Temanku memaparkan panjang lebar sebuah teori, setelah sebelumnya dia mengajak kami menonton sebuah video pendek, juga gambar-gambar yang mendukung teori yang selanjutnya ia paparkan. Kami terbius dengan segala apa yang diucapkannya. Benar-benar beda! Dan, selama dalam acara presentasi, dia sangat menikmati berjalan ke depan audiens, berjalan lagi mengitari kami, lalu ke belakang kami, hingga semua kepala pun menoleh, mengikuti ke mana saja kakinya melangkah. Sambil mulutnya tak henti menjelaskann teori, yang hampir tak kami sadari kalau itu teori. Kami terkesima.

Zaman sekarang, lazim, namun saat itu, zamannya masih presentan berdiri kaku di sebelah Over Head Projector (OHP) sambil tangan dan bibir gemetar, juga keringat jagung yang membanjiri badan, meskipun ruangan ber-AC.

Selesai presentasi, aku menyalaminya. Dia bertanya padaku,

“Aneh ya?”

“Nggak lah, super keren!” jawabku dengan antusias.

“Kok, bisa kayak gitu, sih?” tanyaku kemudian.

“Tahu nggak, dulu aku orangnya seperti dia,” dia berbisik sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah teman kami berada, yang memang menurutku sangat lugu dan pendiam sekaligus pemalu.

Ah, apa bedanya sama aku? Aku ‘kan juga super lugu,” batinku.

“Serius?” tanyaku lebih semangat lagi.

“Beneraaan. Sampai akhirnya aku baca buku yang berjudul Personality plus,” jawab temanku, masih dengansambil berbisik.

“Serius?” mataku kali ini lebih membulat, memastikan kalau dia tidak sedang bercanda.

Ah, aku harus cari buku itu! Pikirku sepanjang jalan pulang dari kampus.

Benar saja, aku langsung mencarinya di toko buku. Saat itu harganya 25ribu, murah banget kan? Tapi ilmunya, jangan diragukan! Buku itu akan merubahmu yang awalnya ceroboh menjadi rajin, yang awalnya pemalu menjadi malu-maluin, dan sebagianya. Akan lebih mudah berinteraksi dengan orang-orang, jika kita mengenali kepribadian masing-masing, termasuk kita mengenali kepribadian kita sesungguhnya.

Buku mungil warna kuning itu, kubaca baris demi baris. Awalnya bingung, kok bisa tulisan itu merubah orang lugu, pemalu dan sifat inferior lainnya menjadi begitu memesona menghipnotis audiens? Seperti dia! Aku masih saja belum bisa percaya.

Tak cukup baca sekali dua kali, hingga akhirnya aku pun bisa menyimpulkan bahwa, aku terlalu kurang bersyukur dengan apa adanya diriku. Selalu merasa kurang. Sesuatu yang seharusnya besar ternyata kecil, pun sebaliknya sesuatu yang seharusnya kecil justru besar. Semangat yang seharusnya besar, yang kupunya kecil,  namun, rasa minder yang seharusnya kecil, justru aku punya begitu besar. Allah-ku, sesempurna itu Engkau menciptakanku. Pasti ada maksud, juga manfaatnya, yang belum juga kusadari.

Semua berawal dari keberanian untuk tersenyum di depan cermin, di pagi hari. Ah, ternyata cantik juga kalau tersenyum. Bisa dibayangkan? Hanya tersenyum di depan cermin saja malu, mau jadi apa aku ini? Pantes saja, semua orang yang baru mengenalku, memberi penilaian bahwa aku orang yang sadis. Padahal enggak, aku orang yang baik! Sangat baik! Bukan takabur, aku orang yang sebisa mungkin tidak akan mengganggu orang lain, tidak menyakiti orang lain, tidak merepotkan orang lain, itu saja! Tapi ternyata itu saja tidak cukup, kita harus bisa lebih menggali kemampuan diri kita untuk bisa lebih bermanfaat bagi orang lain.

Adakah yang mau percaya? Nggak ada! Semua menganggapku orang sombong, orang sadis, orang nggak asyik, orang yang nggak pernah senyum, kecuali sama orang yang benar-benar sudah dekat. Ah, istilah jago kandang mungkin lebih tepat.

Sejak saat itu, aku hampir setiap pagi sebelum beraktifitas apapun, kusempatkan untuk berlama-lama di depan cermin. Kuberanikan diri untuk membinarkan mata. Disitulah ternyata kuncinya, semakin tulus senyuman yang kita keluarkan, kedua mata kita akan semakin terlihat berbinar. Ternyata, seburuk apapun wajahku, yang aslinya ternyata tidak buruk, akan jauh lebih baik, jika sudut bibir ini kunaikkan ke atas, secara simetris, ketimbang kulengkungkan ke bawah. Ini toh, yang selama ini mengesankan aku orang sadis?

Dari buku personality plus, aku bisa menilai diriku sendiri adalah orang yang super melankolis, semua serba sempurna, detil dan penuh pertimbangan. Sama sekali tidak mengingkarinya. Bahkan, saking sempurnanya, kamarku sendiri aku cat sebagus mungkin, dua lapis, dengan warna biru laut dan kulakukan sendiri dengan demikian sempurna, mengenai ketebalan cat pada semua bagian. Juga saat mencuci baju yang waktu itu secara manual, buku-buku jariku sampai mengalami lecet-lecet untuk mengucek celana, terutama jeans yang begitu tebal dan harus super bersih. Ah, seharusnya aku tahu dari dulu, bahwa nggak terlalu bersihpun tetap baik-baik saja. Dan akhirnya aku pun tahu, apayang membuat teman-temanku enggan menemaniku belanja, karena setiap aku akan membeli sesuatu, termasuk baju, aku akan lebih lama memilihnya, menimbang-nimbang sekedar memilih warna, belum lagi modelnya. Pokoknya, rempong! Walaupun akhirnya, saat dikenakan akan tetap sama, menggambarkan aku yang minder ini, bukan aku yang serba menyenangkan.

Perlahan sedikit kurubah, mengurangi kepribadianku yang sekiranya merugikan, dengan belajar menerapkan ilmu baru mengenai tipe orang lain yang lebih menyenangkan. Aku belajar berani menyanyi, meski di kamar mandi. Aku belajar berekspresi dengan menaikkan intonasi bicaraku, namun, justru membuat mereka merasa kubentak-bentak. Padahal tidak. Betapa pedihnya saat itu, kendala untuk berubah sedemikian banyak. Aku belajar petik gitar, bersenandung sendiri di dalam kamar, dan aku belajar menikmati setiap detik yang kulewati dengan selalu memperbaiki diri. Proses yang begitu panjang.

Meski, aku takserta merta berubah menjadi orang yang begitu memesona dalam bergaul, setidaknya aku tak lagi dicap sebagai orang sadis. Aku lebih suka memulai menyapa orang di setiap pertemuan. Aku biasakan selalu tersenyum lebih dulu, dengan orang yang kutemui. Namun, satu kekuranganku, yang hingga kini belum bisa kuhilangkan, ialah menghafalkan orang. Aku hampir selalu lupa sama orang-orang yang baru beberapa kali kujumpai. Sehingga untuk menutupinya, aku selalu menebar senyum kepada setiap orang yang kutemui. Tanpa kecuali.

Semakin kurasakan lagi, bahwa aku butuh merubah perasaan minderku, saat aku mulai masuk dunia kenyataan. Dunia yang tak lagi menadahkan telapak tangan ke orang tua. Dunia dimana aku harus berinteraksi dengan banyak orang, dengan identitasku sendiri. Dunia kerja. Gagap. Namun semua harus bisa kulewati dengan sempurna.

Keberanian berbicara di depan banyak orang, yang paling sulit aku taklukkan. Demam panggung! Tapi aku bertekad harus bisa! Hingga akhirnya, berbekal pengalaman, aku terpaksa menghadapi orang-orang, yang silih berganti setiap hari.Juga, keharusan untuk berbicara di depan masyarakat, di desa-desa untuk mengisi penyuluhan kesehatan. Aku harus mampu! Meski, ternyata aku masih saja jago kandang. Awalnya, aku hanya berani jika di hadapanku orang-orang sepuh, yang bahkan, penglihatan mereka sebagian besar sudah rabun. Ah, tenang, beliau-beliau tidak akan bisa melihat betapa tanganku bergetar saat menjelaskan sesuatu. Andai saja saat itu aku pegang selembar kertas, maka tak sedetikpun kertas itu bisa tenang. Cerdasnya, aku selalu memilih sebuah bolpoin untuk menemaniku beraksi di panggung, hehe.

Aku mulai berani menyanyi, aku mulai berani memetik gitar diantara teman-teman yang bernyanyi. Lagu pertama yang berhasil kuhafalkan kunci gitarnya pun masih lekat dalam ingatan. “Yang Terdalam”. Rupanya dunia ini begitu nyaman, apabila kita membuatnya nyaman. Pun, aku mulai berani ambil resiko, menjadi pusat perhatian banyak orang, saat kuputuskan untuk mengendarai motortiger untuk berangkat kerja. Ah, aku mulai mencari jati diri, setelah sekian lama kututupi, dengan keminderanku sendiri. Mungkin, aku memang dibesarkan di keluarga yang tak berpendidikan, yang tak tahu apa itu ilmu parenting.Namun, aku masih punya alasan yang lebih kuat lagi, sekadar untuk tidak berjibaku dengan rasa minder, yang selama ini mengakrabiku, ialah kesempatanku kuliah.Bertemu dengan orang-orang hebat. Meski SD-pun tak lulus, namun aku bersyukur sekali, orang tuaku (terutama ibuku, almarhumah) bertekad, ingin mendidikku menjadi orang yang bermanfaat. Meski, berpeluh darah memperjuangkan aku hingga berhasil lulus. “Semoga di sana bahagia, Mama.”

Oh, iya, mengenai keberanian bicara di depan umum, entah awalnya seperti apa, tiba-tiba aku ditunjuk menjadi ketua panitia sebuah seminar di RS tempatku bekerja. Yang jelas, bukan karena aku pinter, aku yakin (tuh kan, minder lagi!), tapi karena aku tak bisa menolak tugas, lebih tepatnya. Ketua panitia harus memberi sambutan pertama, ini yang tidak kusadari dari awal. Hingga pada saatnya, aku membuat contekan, yang sumpah aku malu sekali mengingatnya. Contekan dibuat selengkap mungkin.Siapa sangka, karena aku bacanya juga cepat-cepat, maka aku tak sanggup melihat satu-persatu hadirin yang sudah datang. Aku fokus membaca.

Kuucapkan selamat datang, pada semua hadirin.Kepala dinas, direktur RS, rektor, dan seterusnya. Hingga kusadari, betapa aku terlihat “nervous” saat aku terlalu fokus pada contekan, dan kulirik barisan sofa depan ternyata masih kosong semua. Itu artinya, semua orang yang sudah kusebutkan satu-persatu, belum ada satupun yang datang. Fatal sekali!Rasanya saat itu aku pengin masuk ke dalam lemari. Gelombang panas tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhku, tanpa dikomando! Banyak hadirin yang bingung dan pengin tertawa. Namun, kuacungi jempol, mereka tetap saja menghargaiku dengan tetap menyimpan tawa di hati mereka.

Berdiri di panggung, sendirian, membuatku rasanya seperti dipanggang di atas bara, panas kepala, panas hati, hingga yang kurasa cucuran keringat sebesar jagung membasahi kening, membasahi jilbab.Ah, lima menit rasanya setahun. Belum lagi, mengenai suara yang tertelan. Duh, Gusti! Nggak ada yang bisa menolongku saat itu. Aku harus bisa! Semakin cepat kuselesaikan berbicara, maka secepat itu aku bisa turun dari panggung penuh duri panas itu. Panggung yang membuatku panas namun terasa dingin itu.

Aku disalami oleh orang yang mengorbankan aku, “Ya Allah, dingin banget tanganmu!” kata beliau. Sungguh pengalaman berharga, termiakasih! Dan, aku tidak merasa dikorbankan, aku justru merasa dinaikkan levelnya.

Aku mulai melatih keberanianku berbicara. Melalui seminar-seminar, bukan jadi pembicara yang pasti, tapi jadi peserta yang berani bertanya. Apapun pertanyaannya, aku harus mengacungkan jari lebih dulu. Masa bodoh mau dikata apa, aku nggak ambil pusing, yang penting aku selalu tanya dan tanya. Dan hikmahnya, Alhamdulillah berhasil mengumpulkan doorprisebanyak sekali dari berbagai kegiatan. Hanya karena berani bertanya. Sebenarnya bukan doorprise-nya yang penting, tapi keberanian bertanya yang menurutku, itu istimewa, minimal buatku sendiri.

Bahkan, sekarang aku berani mencari perhatian seluruh hadirin dalam sebuah seminar, hanya dengan pertanyaan sepele,

“Maaf, Prof, Alhamdulillah dari semua hal yang sudah Prof paparkan, hanya 3% yang saya masih bingung, makanya saya berani ajukan pertanyaan,” ucapku saat aku dipersilakan untuk bertanya pada kesempatan awal.

“Wow, bagus sekali! Terus yang 97%?” tanya Prof, sang narasumber seminarberbinar penasaran.

“Yang 97%, saya sama sekali tidak paham, Prof.” Sontak semua hadirin tertawa dan serempak menoleh ke aku.

Yes, aku berhasil! Entah, kadang mencari perhatian itu juga membutuhkan keberanian yang ekstra. Hingga akhirnya kita harus siap akan dikenal seluruh peserta yang ada. Berlebihan kalau dikenal, setidaknya ditertawakan lebih tepatnya.

“Loh, Mbak yang tadi 97% kan?” tanya seorang laki-laki separo baya dengan penampilan serba rapi.

“Ahahahhaha,” semua orang di lift itu tertawa bersama, riang, dalam suasana hangat yang menemani kami turun dari lantai 5 menuju lantai basement.Kami saling berkenalan satu sama lain.Ah, apa aku bilang, begitu mudah mencari perhatian. Tinggal beranikan diri. Maka kamu akan dianggap ada.

Dan seperti apa aku sekarang? Belum memesona, sih, tapi buat aku, sudah jauh lebih baik dari sebelum aku mengenal apapun. Bahkan, sebelum aku mengenali binar mataku sendiri di depan cermin. Betapa sempurnanya hidup ini, hanya jika kita bisa menerima kita,apa adanya, mensyukuri semuanya yang dianugerahkan kepada kita, tanpa ada kata tapi.

Buktikan! Bahwa orang minder, akan ada saatnya menjadi mantan orang minder, jika kamu mau memilihnya! Siap? Tempatkan cerminmu di tempat paling terang dan mudah dijangkau, agar setiap saat kamu minder, kamu bisa segera menemukan orang mantan minder itu di depanmu! Siap?

***

Ditulis oleh: Eka W

Reviewer: F. Ghozy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *