Bukan Tentang Dimana Kita, tetapi Bersama Siapa

Minggu, 20 Oktober 2013 merupakan hari yang kutunggu-tunggu. Bukan hari pernikahanku, hari itu untuk pertama kali, aku akan pulang ke rumah setelah setahun meninggalkannya. Sebagai anak tunggal, sambutan dari keluarga besar sungguh luar biasa. Ayah dan Mama sudah menyiapkan rombongan tiga mobil untuk menjemputku. Sedikit berlebihan memang. Tetapi sekalian mengajak ponakan jalan-jalan katanya. Yah, apapun itu, yang jelas aku sudah tak sabar berjumpa lagi dengan mereka.

Aku berangkat ke Batam tanggal 15 Oktober tahun sebelumnya untuk memenuhi panggilan kerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit. Genap setahun sudah aku berjauhan dengan kampung halaman. Kerinduan yang memuncak membuatku berkali-kali menelepon Mama hari ini. Padahal  nanti aku harus berjaga malam. Tetapi aku tidak mempersiapkan untuk tidur karena saking senangnya akan bertemu lagi dengan keluarga. Ini ketiga kalinya aku menghubungi Mama.

“Assalamualaikum, Sayang kok telepon lagi?” suara Mama dari seberang sana menyapaku mesra.

“Walaikumsalam, ya, Ma, sudah enggak sabar menunggu pertemuan besok.”

“Nanti bukannya masih masuk malam, Nduk[1]? Tidak tidur dulu?” tanya Mama yang mungkin khawatir.

“Gak bisa tidur. Jadi mau kemana saja pikniknya besok, Ma? Ke pantai Indrayanti sama Depok ya, ya?” Rengekku.

“Ke Parangtritis saja ya, Nduk?” ucap Mama

“Yaaah, sudah berapa kali kita ke sana, Ma? Aku kan belum pernah ke pantai lain di Jogja” Aku berusaha membujuk Mama.

“Besok kan pesawatmu sampai di Jogja siang, Nduk, waktunya enggak cukup kalau kita ke tempat yang jauh. Pilihan paling memungkinkan ya Parangtritis.”

“Bosen, Ma, nanti adik-adik juga enggak akan menikmati,” protesku lagi.

“Sudahlah, percaya pada Mama, insyaallah tetap seru.” Kata Mama berusaha meyakinkan.

Karena aku masih terus saja ngeyel, akhirnya Mama mencari pembahasan lain agar perdebatan tidak semakin panjang. Aku masih belum bisa menerima keputusan Ayah dan Mama yang memilih Parangtritis sebagai tempat wisata tujuan kami. Niatnya besok saja kuteruskan membujuk mereka lagi ketika kami bertemu. Pastinya mereka akan mengerti bahwa aku mesti menunggu setahun lagi untuk rekreasi ke Jogja.

Pesawat yang kunaiki lepas landas dari bandara Hang Nadim pukul 09.40 WIB. Bayangan wajah kedua orangtua telah menari-nari di pelupuk mataku. Bahagia memang terkadang aneh, aku justru menghabiskan dua jam perjalanan untuk menangis. Sejenak terlupa bahwa aku sedang ngambek karena lokasi tujuan piknik diganti.

Hampir tengah hari pesawatku berhasil mendarat di Yogyakarta. Dua pasang mata itu sudah tiba di depan pintu kedatangan. Ayah yang tak pernah kulihat meneteskan air mata tampak menghapus buliran air dari matanya. Aku segera menghambur ke mereka. Kami menangis menumpahkan kerinduan. Kupeluk satu persatu keluarga mulai dari Kakek, Ponakan, Kakak dan Tante yang turut menyambut di belakang kedua orang tuaku. Mereka pun terharu melihatku.

 Setelah beberapa saat saling melepaskan rindu, kami menuju mobil. Belum membahas tentang destinasi wisata yang akan kami kunjungi. Aku juga masih sibuk bercerita tentang kehidupanku di Batam. Rasa kantuk karena tidak tidur dari kemarin pun terkalahkan dengan semangat bercengkerama bersama ponakan-ponakan. Aku tidak ingat kalau aku berniat ngotot mengajak ke pantai Indrayanti atau pantai Depok. Malah seandainya bisa aku berharap bisa mengunjungi keduanya. Sampailah kami di pintu gerbang pantai Parangtritis.

“Loh, kok tetap ke Parangtritis, Kak? Aku maunya ke Indrayanti. Hiks,” keluhku pada Kakakku yang tengah duduk di sampingku menyetir mobil.

“Kejauhan kalau ke sana. Yang dekat saja, yang penting piknik,” jawab Kakakku yang didukung oleh Mama dan Bapak di belakang.

“Aku kan pulangnya setahun sekali, kapan lagi bisa ke pantai Indrayanti atau Depok, Kak?” Kalimatku masih menunjukkan penolakan.

“Ya sudah, kapan-kapan selama kamu di rumah, kita agendakan khusus untuk main ke Jogja.” Hibur Ayah.

“Halah, mana mungkin kita ke Jogja lagi, Yah. Memangnya, Ayah sama Mama ada waktu lagi? Paling juga sibuk.”

“Hey. kok marah to? Masa baru ketemu setelah setahun pisah malah marah, Nduk?” bujuk Ayah.

Aku tidak menjawab pertanyaan Ayah. Bahkan ketika semuanya sibuk makan siang, aku tidak ikut karena kesal. Tetapi kelihatannya tidak berdampak apapun bagi Ayah dan Mama. Seperti biasanya, mereka mengabaikan kekesalanku. Barangkali lantaran mereka sudah hafal bahwa aku justru akan semakin marah jika mereka membujukku.

Adik-adik mulai berganti pakaian untuk bermain air. Aku hanya duduk di pinggiran pantai bersama Ayah dan Kakek.  Tidak banyak bicara. Mama, Tante, Kakak, Om dan yang lain mendekati air. Entah apa yang mereka lakukan. Ayah mulai tertarik dengan kegiatan yang dilakukan yang lain. Tersisa aku dan Kakek saja. Duduk di tikar, berteduh di bawah payung yang lumayan menyejukkan. Kakek tiba-tiba membuka pembicaraan.

“Bagaimana, Nduk, di Batam, betah? Kok tak perhatikan, kamu murung dari tadi.” tanya Kakek.

“Alhamdulillah untuk satu tahun ke depan insyaallah masih sanggup bertahan di sana Mbah Kung. Tetapi mungkin boten[2] lanjut kontraknya.” ucapku sambil tersenyum pada Kakek.

“Terima kasih, ya, Nduk. Karena Ayu, kita, keluarga besar jadi ada waktu berkumpul seperti ini. Mbah Kakung merasa bahagia menyaksikan kalian tertawa bersama. Sekali lagi terima kasih.”

Mendengar ucapan Kakek, aku malu dengan diriku yang ingin menang sendiri. Kakek saja begitu bahagia melihat kami. Seharusnya aku merasakan kegembiraan yang jauh darinya. Sebab mereka ada di sini untukku. Menyambut kedatanganku. Meluangkan waktu-waktu sibuk mereka. Berulang kali aku mengucap istighfar Kujawab Kakek bahwa aku yang sangat berterima kasih Kakek mau turut menjemputku meskipun harus jauh-jauh ke Jogja. Beberapa saat kemudian Kakak dan Tante bergabung dengan kami.

Aku menyesal telah marah pada Ayah dan Mama. Kudekati mereka.

“Maaf ya, Yah, Ma. Enggak seharusnya aku marah, tadi,” kataku sambil mengusap air mata.

“Enggak apa-apa, Sayang.” Jawab Mama.

Ayah memelukku lalu menggoda “Sudah mau ikut bermain-main air, sekarang?”

Aku tertawa dan mengiyakan pertanyaan Ayah. Selanjutnya, aku larut dalam perang air bersama ponakan yang lebih dari lima orang. Kami pulang dari Jogja sekitar pukul 17.00 WIB. Aku tak ingat lagi dengan jam tidurku yang hilang sejak kemarin.

**

Pelajaran yang kudapatkan hari itu, bukan tempatnya yang istimewa tetapi kebersamaan kami. Kini setelah bertahun-tahun berlalu, aku terus mengenang 20 Oktober 2013. Apalagi dalam tiga tahun terakhir ini aku hidup di Jogja. Tentu saja aku dapat mengunjungi pantai-pantai itu, kapan pun aku mau. Ternyata begitulah Allah memperlihatkan Keagungan-Nya. Jika saat itu Ayah dan Mama menuruti kemauanku, mungkin waktu hanya akan habis di perjalanan. Dan sudah pasti adik-adik tidak akan menikmati bermain karena lelah. “Tetapi, boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al Baqarah : 216).”

[1] Nduk : panggilan pada anak perempuan di Jawa

[2] Boten : Tidak dari bahasa Jawa

Ditulis oleh: Fitri Ayu Mustika

Reviwer: Nurul Chomaria

Baca Juga:   PESONA ISTRI SALIHAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *