(Bukan) Kesenangan Instan

Siapa coba yang tidak bahagia saat menatap binar suka cita di mata anak?  Sayangnya rasa bahagia itu menjadi satu kelemahan bagi saya.

Demi ingin melihat kesenangan anak, kadang saya ingin segera berikan apa pun yang dia minta. Malah terkadang sudah saya belikan sebelum dia sebut.  Itu karena saya sangat menikmati tawa girangnya, matanya yang membulat karena terkejut dan pekikan kesenangannya.

Saya bukan tidak pernah membaca teori-teori parenting tentang dampak negatif karena terlalu memanjakan anak. Saya baca, saya tahu, namun saya abai. Selalu ada pembelaan, ‘ah, sekali-kali ini’ atau, ‘ah, mumpung ada diskonan’.

Memang terbukti. Anakku beranggapan segala sesuatu yang dia mau pasti akan dia dapat dengan mudah. Well, rasanya, walau baru enam tahun membesarkannya, kami–terutama saya, sudah sangat lalai dalam memberikan pengertian mengenai uang.

***

Siang itu, saya lihat spidol-spidol berserakan di bawah meja belajar anak. Beberapa bahkan masih terbuka, tutup spidolnya ikut tercecer. Sementara si pemilik sudah asyik dengan mainan yang lain.

Waktu saya ingatkan, “Ditutup dong spidolnya, kalau habis dipakai. Nanti kering, nggak bisa dipakai buat gambar lagi.” Anakku menjawab dengan santai, “Beli lagi.”

Begitu juga kejadiannya saat dengan sembrono boneka Little Pony kesayangannya dilemparkan ke lantai teras  yang belum sempat disapu.  “Nanti bonekamu cepat kotor, kumal.” Lagi-lagi jawabannya, “Beli lagi.”

Oh…oh…, ada yang harus segera dibereskan disini, sebelum terlanjur menyimpang jauh pemahaman anakku. Lebih dahulu saya harus introspeksi, bahwa anak begitu karena orang tuanya, karena saya juga.

Padahal latar belakang keluarga saya maupun suami tidak model jorjoran dengan harta benda. Kami sama-sama dibesarkan dalam kesederhanaan.

Saya masih ingat betul, bagaimana Bapak Ibu dulu begitu ketat dengan uang pada kami. Aturan dari orang tua saya dulu jelas. Bapak hanya memberi uang untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan keperluan sekolah. Kalau ingin membeli benda-benda yang sifatnya sekedar hobi dan kesenangan, silakan menabung dari uang saya sendiri. Kenapa tidak diterapkan hal yang sama pada anakku? Tentu saja dengan pendekatan yang bisa diterima oleh anak seusianya.

Si Bapak yang kemudian lebih dulu bertindak. Dia mengambil satu celengan plastik Hello Kitty yang selama ini hanya dijadikan mainan boneka-bonekaan. Anakku dulu minta dibelikan celengan itu  bukan untuk menabung, tapi hanya karena suka semua hal yang bertema Hello Kitty.

Pelan-pelan suami dan saya bergantian memberi pengertian tentang menabung.  Bahwa kalau anak saya ingin memiliki suatu mainan, dia harus mengumpulkan uang dulu sampai cukup untuk membeli apa yang dia mau. Kalau dia ingin uang dalam celengannya cepat terkumpul banyak, dia juga harus mengurangi kebiasaan jajannya.

Usaha kami sedikit terbantu dengan buku cerita yang kebetulan sering dibacakan.  Tentang kebaikan menabung dan hidup hemat.

Apakah semudah itu rencana kami berjalan?

Namanya juga anak-anak. Masih balita pula. Kadang dia menguji keteguhan kami dengan rengekan dan tangisan. Biasanya si Bapak akan mengajaknya berburu koin, di saku celana Bapak tentu saja.  Lalu bersama-sama memasukkan uang koin itu ke dalam celengan.

Atau membujuknya dengan kalimat, “Eh…, Hello Kitty-nya lapar. Kita kasih makan sampai penuh, yuk!”

Saya sendiri kemudian menemukan kesenangan dalam bentuk lain. Yaitu mengumpulkan uang receh kembalian belanja yang kemudian akan diterima dengan senang hati oleh anak saya. Dia akan bersemangat memasukkan uang itu lalu berdoa agar celengannya cepat penuh.

Kadang kalau keinginannya untuk punya sesuatu sedang sangat kuat, dengan pintarnya dia membujuk bapaknya dengan gaya semanis mungkin.  “Ditambahin duitnya Bapak aja too….”

Tapi untungnya anakku mudah dibujuk, diberi pengertian. Meskipun kadang masih bersungut-sungut. Semakin bertambah umur sepertinya pikiran dan nalarnya pun mengikuti menjadi lebih dewasa.

***

Sampai hari ini, sudah dua kali anakku membongkar celengannya.  Setelah penuh tentu saja.  Berdua dengan bapaknya, anakku yang bersemangat akan mengelompokkan koin-koin itu sesuai pecahannya, lalu disatukan tiap sepuluh keping.

Lebih seru lagi saat membawa pundi-pundi uang receh itu ke toko.  Melihat wajah bangga si anak waktu memberikan kantung uang pada pegawai kasir sungguh luar biasa menyenangkan. Rasanya sungguh berbeda dengan saat memberikan kesenangan padanya secara instan.

*****

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *