Bukan Bakat, Ini Dia Modal Untuk Bisa Menulis!

sumber: merdeka.com

 

Banyak orang yang berhenti melakukan sesuatu karena terpenjara dalam pikirannya sendiri, juga sulit melangkah karena menunda. Banyak yang berkeinginan untuk sempurna tetapi lupa, bahwa yang sempurna bukanlah manusia. Masalah ini pun dialami oleh penulis pemula, takut berkarya hanya karena merasa belum sempurna ketika merangkai kata. Atau bagi mereka yang belum memulai, tak kunjung mencoba menulis karena merasa tidak punya bakat.
Tak sedikit juga orang menjadi antimenulis karena sejak di bangku sekolah, telah membenci pelajaran mengarang. Dari sini juga, pandangan bahwa menulis adalah menyusun kalimat manis dan puitis terlanjur tertanam. Menulis adalah membuat cerita, mengarang dongeng ataupun sebatas merangkai puisi. Batasan yang dibuat karena ketidaktahuan itulah, yang kemudian menyebabkan menyempitnya paradigma tentang menulis.
Selain itu, ketiadaan tujuan menambah daftar alasan mengapa kebanyakan orang tidak mau menulis. Tanpa tujuan, orang akan kebingungan dan bertanya-tanya apa yang perlu dituliskan? Meskipun banyak penelitian yang menyebutkan bahwa menulis dapat menyehatkan jiwa atau mengurangi risiko depresi, manfaat ini tak bisa langsung dirasakan sehingga sulit menemukan alasan kuat dibalik kegiatan menulis. 
Menulis sebenarnya adalah sebuah kebutuhan. Sebagai produk dari proses berkomunikasi dan menyampaikan ide, kemampuan menulis sudah seharusnya kita miliki. Apalagi di era sosial media ini, kita banyak berkomunikasi melalui tulisan tanpa bertatap muka juga mendengar intonasi lawan bicara. Kemampuan menulis akan membantu kita berkomunikasi, menata pesan supaya perbincangan atau sebuah gagasan dapat ditangkap penerima sesuai maksud si penulis.
Di tengah banjir informasi yang tak terbendung, manfaat menulis menjadi lebih luas. Menulis dapat menjadi salah satu cara memerangi konten negatif, dengan jumlah konten positif yang semakin banyak dapat menjadi harapan memersempit ruang lahirnya konten negatif. Semakin banyak yang menulis dengan baik, semakin sedikit pula informasi sampah yang mungkin masih sering kita telan mentah-mentah.
Bagi yang memeluk agama Islam, jelas saja bahwa menulis bisa menjadi investasi jangka panjang. Jika kita menuliskan satu kebaikan dan orang lain mengikuti kebaikan itu, maka nilai kebaikan yang dilakukan orang tersebut juga berlaku bagi kita. Manfaat ini mungkin juga tak langsung dirasakan dan bukan dalam hitungan manusia, tapi bukankah kebaikan akan melahirkan rasa bahagia? Juga, bukankah kebaikan-kebaikan yang kecil mungkin menjadi besar, kelak?
Sebagai penulis pemula yang juga pernah merasakan hal yang sama, saya coba mengingat bagaimana saya menumbuhkan keinginan untuk menulis dan menepis segala anggapan keliru tentang menulis. Kali ini, saya sedikit memberi jawaban atas pertanyaan saya sendiri. Barangkali, tulisan ini dapat membantu untuk menata pemahaman yang keliru atau mental block yang belum kunjung terobati. Saya mulai dengan sebuah pertanyaan “Sudah kenal dengan otak manusia?”
Manusia dianugerahi dua belahan otak yang mempunyai fungsi berbeda. Inilah perangkat canggih tempat memroses banyak informasi. Belahan otak kanan memerankan fungsi di luar nalar, logika dan angka,maka modal awal yang jelas dimiliki manusia adalah kemampuan imajinatif, kreatifitas dan inovasi. Bukankah ini adalah modal yang tidak perlu kita cari dengan susah payah karena telah kita bawa sejak lahir? Kita juga diperkuat oleh  kemampuan bahasa yang terdapat pada belahan otak kiri.
Kolaborasi belahan otak kanan dan kiri manusia adalah bahan dasar kita untuk menulis: menangkap ide, menciptakan jalan cerita dan mengurutkan dengan logika. Dan jika kita melakukannya berulang-ulang, kemampuan tersebut akan terasah. Sebagaimana ditulis oleh Ustadz Felix Y. Siaw dalam bukunya berjudul How To Master Your Habits pengulangan atau repetisi akan memunculkan kebiasaan dan kebiasaan adalah sesuatu yang kita lakukan secara terus menerus tanpa perlu berpikir.
Pemahaman lain yang masih banyak keliru adalah menganggap bahwa menulis itu sama dengan mengarang. Meskipun mengarang memang bagian dari menulis, tetapi tulisan tidak meluluberupa fiksi. Menuliskan pikiran, perasaan dan komentar juga sudah dapat disebut sebagai tulisan meskipun tidak selalu memunculkan impresi untuk pembacanya. Bentuk dan jenis tulisan yang beragam sesungguhnya adalah pilihan lebar yang bisa kita cocokan dengan kecenderungan kita dalam menyukai jenis tulisan.
Kalau menulis hanya berpuisi atau berdongeng, bagaimana dengan blogger? Mereka mengulas banyak hal, bisa jadi hanya berawal dari tulisan yang ekspresif. Lahir dari apa yang mereka rasakan, pengalaman, cita rasa makanan, perjalanan liburan ke suatu tempat yang mungkin bisa dimaknai berbeda oleh orang lain. Tapi siapa sangka jika kemudian apa yang diungkapkan secara objektif memberi mereka rezeki?
Setelah berhasil menggeser pemahaman tentang bakat, biasanya permasalahan umum yang sering dijumpai adalah ketiadaan ide. Macet di tengah proses menulis karena bingung hendak dibawa kemana tulisannya. Hilang pembahasan juga kehabisan bahan untuk menyambungkan tiap paragraf. Jawaban untuk permasalahan ini yang mungkin akan terasa klise adalah “Silakan perbanyak membaca!” karena sepertinya, membaca memang solusi yang tidak bisa ditawar.
Setiap peristiwa dalam satu hari tentu bisa dituliskan, pagi-pagi kita mudah menjumpai wajah-wajah manusia yang terburu-buru dan melanggar rambu. Mendalami pertemuan dengan orang-orang atau keluh kesah orang lain yang kita dengar. Kita juga sangat boleh membagi hikmah dari sebuah peristiwa yang barangkali tak ditangkap mata orang lain: kita adalah pembaca, saksi mata dan sekaligus pencerita.
Tak berhenti pada kekurangan ide, biasanya pemula sering menunda melanjutkan tulisannya karena alasan tak dimuat di media. Ada juga yang merasa belum mampu membuat buku hingga meluluhkan hati penerbit. Alangkah sayangnya, jika berhenti begitu saja sementara zaman now media berkembang lebih banyak. Instagram, wattpad dan tumblr mungkin adalah tiga dari banyak media online yang bisa dimanfaatkan penulis pemula. Penulis dengan mudah mengunggah tulisannya untuk mengasah kebiasaannya.
Tulisan-tulisan yang terunggah dalam sosial media ini juga dapat menjadi modal, belakangan bermunculan penulis muda yang telah lama berkarya melalui akun media social. Salah satunya adalah Gita Savitri atau lebih dikenal sebagai Gitasav. Sebelum menerbitkan buku, Gita menuliskan pemikiran-pemikirannya melalui Instagramdan juga blog pribadinya. Hingga di tahun 2017 ini,  barulah ada penerbit yang membukukan karyanya.
Memang mengawali tidak selalu mudah, saya pikir menulis di sosial media juga mungkin membuat kita merasa tak punya pembaca. Apalagi ketika tidak ada yang berkomentar, bahkan meninggalkan jempol di postingan kita. Tulisan yang kita pikir sebagai pembawa pesan kebaikan, disampaikan dengan niat baik tak membuat pembaca tertarik. Tapi, kepercayaan diri dan kemampuan untuk melawan rasa rendah diri adalah modal utama dalam proses menumbuhkan diri sebagai penulis.
Penulis andal dan best seller sekalipun, punya pengalaman pertama. Kita lupa, terkadang kita hanya melihat masa mereka di puncak dan tak menjadi saksi langkah awal mereka. J.K. Rowling mungkin adalah satu contoh penulis kaliber dunia yang mengalami pengalaman pahit sebelum akhirnya karyanya diterima dan sukses sebagai buku serta film.

 

Untuk menulis sesuai kaidah menggunakan teknik benar dan cara penyampaian yang membuat pembaca menyelesaikan hingga akhir memang tidak mudah. Tetapi jika tidak dimulai, kapan menulis akan menjadi mudah?
*****
Ditulis oleh: Hapsari Titi
 
Baca Juga:   7 Tips Agar Anak Suka Buku

One thought on “Bukan Bakat, Ini Dia Modal Untuk Bisa Menulis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *