Bisikan Teman atau Bisikan Setan?

Ternyata hal paling mengerikan yang sering terjadi di lingkungan kerja adalah hancurnya hubungan pertemanan akibat bisikan-bisikan negatif dari teman. Kelihatannya seperti enggak ada masalah, tapi ternyata di belakang suka membicarakan kejelekan kita. Ketika ngumpul bareng sih kelihatan akrab, begitu ngumpul dengan rekan lain seolah menunjukkan ketidaksukaan. Miris. Coba saja kita perhatikan gejala-gejala yang ada di lingkungan kerja kita. Jangan sampai kecolongan.

Ketika kita terjebak dalam masalah seperti ini, enggak hanya bakal kehilangan teman, bisa jadi juga kehilangan pekerjaan. Karena hubungan yang terjalin enggak lagi sehat. Yang ada hanya usaha saling menjatuhkan. Semakin lama terbelenggu dalam masalah ini, semakin melorot kinerja kita. Konsentrasi buyar, motivasi berkurang, dan tidak lagi peduli pada tujuan awal perusahaan. Karena yang menjadi prioritas kita adalah menjatuhkan teman. Balas dendam.

Lalu bagaimana cara kita mengenali gejala-gejala terkait masalah ini?

Pertama, ada kejanggalan dari caranya menatap kita.

Saya sepakat dengan pernyataan, “Kebohongan seseorang bisa terlihat dari matanya.” Sangat susah menyembunyikan kebohongan dari bahasa yang dipancarkan oleh mata. Bahkan sekarang enggak perlu sekolah tinggi untuk memahami bahasa tatapan seseorang. Karena interaksi sehari-hari yang kita lakukan otomatis membuat kita akrab dengan bahasa yang diungkapkan melalui kontak mata.

Cukup dengan menggunakan rasa yang ada di dasar hati, kita akan dengan mudah mengenali kejanggalan. Ketika senang, marah, minder, berbohong, masing-masing diungkapkan berbeda oleh mata. Dari tatapan mata itulah kita bisa menebak jujur tidaknya seseorang. Sehingga ketika kita merasa ada yang janggal pada tatapan teman kita, maka sensitiflah. Segera konfirmasi agar tidak terjadi masalah yang lebih rumit.

Tidak perlu langsung menuduh, “Kamu bohong ya?” Ini justru akan memperkeruh suasana. Kalau mau klarifikasi cari kalimat atau kata-kata yang netral. Disampaikan dengan bahasa yang baik, tanpa perlu emosi. Skak mat, tapi secara halus.

Kedua, ada rasa segan untuk berkomunikasi.

Jika kita merasa segan untuk berbicara dengan orang lain, biasanya ada masalah yang kita pendam. Entah masalah langsung dengan orang tersebut atau masalah yang kita ketahui dari orang lain, sehingga membuat kita canggung berinteraksi. Begitu juga ketika teman sedang bermasalah dengan kita, mereka seperti ada rasa segan berkomunikasi. Yang biasanya humble, jadi kikuk. Seolah ngobrolnya sangat berhati-hati dan menjaga jarak.

Kalau sudah begini sebaiknya kita harus segera mengambil sikap. Mau mempertahankan hubungan dengan teman kita atau cuek dan kehilangan teman?

Ketiga, dia sering menghindar ketika kita ajak jalan bareng.

Namanya punya masalah, pastilah sangat enggak nyaman kalau sering ketemu. Apalagi jalan bareng. Perasaan enggak enak bisa membuat enggan berlama-lama atau bertemu. Jangankan ngobrol, kadang melihat wajahnya saja bisa jadi bad mood. Lalu muncullah rasa ingin selalu menghindar. Mengurangi intensitas ketemuan kita dengan si dia.

Orang lain pun akan begitu ketika punya masalah dengan kita. Melihat wajah kita saja seperti muak. Diam-diam mereka lebih suka menghindar. Suka alasan enggak bisa setiap kali kita ajak ketemuan.

Solusinya untuk mengatasi gejala seperti ini adalah sering ajak teman kita ngumpul bareng. Jangan hanya berdua, tapi beramai-ramai. Makan-makan, ngopi, atau nonton. Kalau perlu sering-sering traktir mereka. Di momen-momen seperti ini kita bisa memanfaatkan untuk menunjukkan bahwa sebenarnya diri kita enggak punya masalah dengan teman kita tersebut.

Keempat, beberapa teman mengabarkan bahwa dia sering menjelekkan kita di belakang.

Ini yang sering bikin galau. Saat teman-teman dekat kita mengatakan sesuatu tentang perlakuan teman kita yang lain ketika di belakang kita. Menjelek-jelekkan, padahal saat ketemu sikapnya biasa saja. Kadang kita ragu, apakah harus percaya atau cuek. Di satu sisi kita belum yakin kebenarannya, di sisi lain kita sebenarnya juga merasakan kejanggalan itu.

Memang enggak semua orang bisa langsung terpancing dengan situasi seperti ini. Kadang terbawa emosi hingga ikut membalas dengan mengumbar kejelekannya. Maka, ketika kita mendengar hal jelek tentang perlakuan orang di belakang kita, cobalah dulu memastikan kebenarannya. Jangan buru-buru menghakimi seseorang hanya karena laporan dari orang lain. Meskipun kita sudah merasakan kejanggalan dalam hubungan pertemanan. Minimal ketahui dulu akar permasalahannya.

Kelima, muncul kelompok-kelompok atau gap pertemanan.

Gap pertemanan terbentuk ketika masalah tersebut dibiarkan lama hingga banyak memakan korban. Korban dari bisikan-bisikan yang saling menjelekkan. Bagi orang lain yang mendengar bisikan tersebut, tentu saja akan berusaha berempati. Ada juga yang sekadar simpati dan sebatas ikut-ikutan. Alih-alih memberi dukungan, ujung-ujungnya membentuk kelompok tersendiri.

Tanpa kita sadari kelompok-kelompok itu terbentuk atas asumsi orang lain yang sering melihat aktivitas berkelompok. “Dia kok sekarang enggak pernah ngumpul bareng si A, ya?” Akhirnya asumsi itulah yang menuatkan gap pertemanan. Meskipun berawal dari asumsi orang lain, tapi efeknya bisa menghancurkan pertemanan. Hal-hal seperti ini ternyata enggak hanya terjadi dalam pergaulan anak sekolah, atau anak kampus, tapi juga terjadi di tempat kerja.

Orang-orang yang seharusnya sudah mampu berpikir dewasa kenyataannya terperosok juga dalam masalah ini. Seorang karyawan yang seharusnya memprioritaskan pekerjaan dan tugasnya, ternyata harus menghabiskan waktunya untuk mengurus urusan orang lain. Pada akhirnya enggak hanya pusing gara-gara masalah pekerjaan, tapi juga akibat masalah hubungan pertemanan.

Yang harus kita lakukan ketika menemui gejala-gejala seperti di atas adalah berusaha kuat menahan godaan bisikan-bisikan yang memprovokasi. Tetap berusaha berada di posisi yang benar tanpa menjatuhkan orang lain. Bisa jadi bisikan-bisikan itu terus ada, bahkan menyudutkan kita. Namun, alangkah baiknya jika kita bisa menahan diri dari sikap ingin membalas keburukan yang dilakukan teman kita.

Bisikan teman bisa menguatkan kita, tapi juga bisa menghancurkan kita. Ketika bisikan itu adalah bisikan setan yang terus-menerus mengobarkan api kebencian dan dengki. Bahkan setan enggak akan berhenti membisikkan kebencian meskipun kita dalam situasi yang terpuruk sekalipun. Karena di situlah kesenangan setan. Saat manusia dengan mudah mengikuti bisikannya dan menimbulkan kerusakan.

Maka hargailah pertemanan dengan rekan kerja. Bagaimanapun juga kita butuh rekan untuk menjalankan sistem organisasi yang ada di lingkungan kerja. Kita butuh saling bantu untuk mewujudkan tujuan utama perusahaan. Hingga nantinya kita bisa turut merasakan buah manis dari kesuksesan yang diraih bersama perusahaan.

Ditulis oleh: Seno NS, Founder Blogerclass

Reviewer: Dwi Suwiknyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *