Berwisata Hemat dengan Bus Kota

Ayo!

Hai Tayo … hai Tayo …

Dia bis kecil ramah

Melaju … melambat …

Tayo selalu senang

Pernah dengar kutipan lirik lagu tersebut? Bagi pecinta kartun ilustrasi bus ini pasti tahu. Empat bus yang berwarna-warni, yaitu biru, merah, kuning dan hijau. Tayo, si bus biru, adalah bus kesukaan anak saya yang biasa dipanggil Adek. Tiap jalan-jalan, dia suka menyamakan bus Trans Jogja yang berwarna biru dengan Tayo. “Tayo!” sambil menunjuk bus, Adek berteriak gembira.

Kesukaannya pada bus memang tak lepas dari peran kami, orang tuanya. Ada satu alasan yang membuat Adek suka bus, alat transpotasi umum tersebut. Bermula dari ayahnya yang tiba-tiba masuk jadi anggota komunitas pecinta bus, BISMANIA COMMUNITY. Komunitas ini mengusung slogan “AYO NAIK BIS” dalam rangka mengajak masyarakat kembali menggunakan transportasi umum. Awalnya, saya agak aneh dengan adanya komunitas tersebut. Baru dengar ada ya orang suka sama bus, hahaha. Dalam pikiran saya, isinya ngumpul-ngumpul buat mengagumi bus dan bahkan awal ikut suami rajin banget hunting bus buat diabadikan gambarnya tiap weekend. Setelah lama berkecimpung di sana, ternyata kegiatan mengabadikan bus adalah salah satu cara mengenalkan bus kepada masyarakat. Ini loh ada bus seperti ini di Indonesia. Banyak juga blogger BISMANIA yang merangkumkan tulisan tentang bus seperti catatan perjalanan, armada bus, sejarah bus, dll.

Karena ayahnya suka dan selalu membawa adek ikut kopdar (kopi darat) anak-anak komunitas, begitulah Adek mencintai bus. Jadi dalam sebulan atau per 2 bulan, ada jadwal naik bus untuk keluarga kami. Dulu pas masih berdua sama suami, naik bus sampai ke luar kota selalu jadi agenda. Biasanya dari terminal ke terminal. Sesekali mengelilingi kota dengan bus kota juga. Tapi untuk Adek, kami masih sebatas mengelilingi kota Jogja, kota perantauan kami. Paling sesekali naik bus ke Purwokerto dalam rangka mudik ke Banjarnegara, kota kelahiran kami. Dari Purwokerto, kami kembali menaiki bus antar kota yang kecepatannya bak mobil-mobil gim CTR (Crush Team Racing) yang dapat NOS pas terinjak. Wuuuuuuuus!

Sebenarnya, kegiatan kami ini tidak saya masukkan ke daftar wisata keluarga. Mikirnya kalau wisata ya main ke mana gitu, pantai kek, kebun binatang kek atau ke pusat hiburan kek. Tapi lama kelamaan, kegiatan naik bus ini menjadi primadona, apalagi bagi Adek. Mengelilingi kota dengan bermodalkan Rp3.500 tiap orang (tiket di bulan Maret 2018) dan untuk Adek malah free karena belum berusia 5 tahun, menjadi kebanggaan saya sebagai ibu rumah tangga. Demi apa? Wisata hemat yang menstabilkan keuangan rumah tangga (baca: uang wisata keluar lebih sedikit dari biasanya). Jadilah, agenda bulanan disetuju suami dengan naik bus setelah merasakan dampaknya.

Mengeksplorasi kota Jogja nggak ada matinya. Apalagi sekarang trayek Trans Jogja sudah ditambah. Yang tadinya hanya 1A-1B, 2A-2B, 3A-3B, dan 4A-4B, sekarang bertambah 5A-5B, 6A-6B, juga bus nomor 7, 8, 9, 10, dan 11. Jadi, nggak ada kata bosan naik bus Trans ini. Sampai saya pun masih belum hafal ke mana saja tiap trayeknya karena kami belum menikmati semua trayek. Itulah kenapa agenda wisata bulanan masih bisa jalan dengan harapan bisa mengeksplorasi semua nomor bus trans Jogja. Bahkan, ada trayek bus baru dari Dinas Perhubungan DAMRI yang mengelilingi ringroad dengan hanya membayar Rp4.000. Ah, surga pecinta bus ini!

Rute perjalanan kami selalu berawal dari terminal Giwangan, Jogja. Biasanya, kami berangkat dari rumah naik motor. Masuk terminal lewat bagian belakang dan menitipkan sepeda motor pada lapak penitipan milik warga yang banyak berdiri di sekitar terminal. Biasanya untuk penitipan menginap, kami cukup membayar Rp3.000 saja. Atau bisa memilih tempat parkir yang dijaga sampai sore di depan hotel TPY (Terminal Penumpang Yogyakarrta) dengan membayar  Rp2.000 tanpa inap. Setelah beres menitipkan, kami akan jalan kaki untuk masuk ke terminal lalu menuju halte bus Trans yang berada di dalam terminal sebelah utara. Berdekatan dengan pool bus Antar Kota dalam Provinsi (AKDP).

Bagi kami, wisata mengelilingi kota ini mengenalkan kami dengan banyak hal, enggak cuma Adek. Adek pun jadi terbiasa berkendara transportasi umum. Mengenal banyak sifat orang karena kami akan bertemu para penumpang bus, beristirahat sejenak dari menyetir bagi ayah, menikmati Jogja dari sudut pandang lain, yaitu dari balik kaca bus, dan masih banyak lagi. Eksplorasi lingkungan sekitar menjadi semakin asyik dengan membawa bekal homemade. Kadang bawa buah-buahan lokal seperti pisang, apel potong atau pepaya potong. Kadang bawa nasi beserta lauk pauk dan sayur. Kalau hanya snack yang dibawa, kami akan menentukan tempat makan di sekitar halte bus Trans.

Berwisata menjadi salah satu kebutuhan masyarakat dewasa ini. Tekanan dari dunia kerja dan lingkungan membuat seseorang menghibur dirinya dengan keluar dari rutinitas sehari-hari bersama orang-orang tercinta. Saat weekend atau libur cuti menjadi waktu yang tepat berkeliling menikmati keindahan daerah sekitar. Bagi para ayah, ini menjadi momen libur bekerja dan dekat dengan keluarga. Bagi para ibu, ini menjadi libur dari kegiatan rumah tangga. Dan bagi anak, ini menjadi momen indah masa kecilnya bersama keluarga. Berwisata tak perlu mahal, naik bus kota dan berkeliling menjadi salah satu alternatif wisata keluarga yang hemat. Kalau Anda, apa agenda wisata keluarga yang paling hemat selama ini?

Ditulis oleh: Dhita Erdittya

Reviewer: Joko Sulistya

Baca Juga:   [Cernak] Bangku yang Menangis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *