[Cernak] Berteman dengan Asperger

Anak baru itu berdiri diam di samping Bu Susan, wali kelas 3A. Badannya yang sedikit lebih tinggi dari teman-teman di kelasnya itu berdiri tegak dan tegap. Pandangannya lurus menatap ke depan tanpa berkedip sedikit pun.

“Anak-anak, ini teman baru kalian, Martin.”

“Halo,” ucap Martin saat Bu Susan memintanya untuk menyapa teman-temannya.

Aldi sang ketua kelas mendahului membalas sapaan Martin, yang kemudian diikuti oleh teman-teman lainnya. “Hai, Martin….”

Menurut Bu Susan, Martin akan membutuhkan banyak bantuan, maka beliau meminta Martin untuk duduk di samping Aldi, setelah terlebih dahulu meminta Bian untuk pindah duduk dengan Nanu di deretan belakang.

Maka duduklah Martin di bangku Bian. Tas ranselnya di simpan rapi di laci meja setelah mengeluarkan buku dan perlengkapan lainnya. Kemudian kedua tangannya diletakkan di atas pangkuannya, di bawah meja.

Aldi diam-diam mengamati gerak-gerik Martin. Sejak duduk tadi Martin belum mengajak bicara Aldi sama sekali.

Aldi mencoba mengajak bicara dengan menggeser bukunya ke arah Martin. Dia ingin menunjukkan sampai di mana pelajaran mereka hari itu. Tapi Martin bergeming.  Tatapannya tetap lurus ke depan, sementara kedua tangannya bergerak-gerak memainkan karet gelang yang saling berkait di jari tangannya.

“Martin, kamu tidak sopan!”

Aldi menarik kembali bukunya dan menahan perasaan marah di dalam hatinya. Sementara Martin tetap diam, tidak memperhatikan Aldi sedikit pun.

  *****

Setelah berganti baju dan merapikan tasnya, Aldi mendekat pada Ibu.  

“Bu, Aldi mau cerita.  Tapi Ibu jangan marah ya.”

Aldi menatap ibunya dengan cemas. “Ibu kan selalu bilang supaya Aldi sayang pada teman.  Tapi anak baru ini aneh, Bu.”

Ibu tersenyum dan membelai kepala Aldi yang nampak gusar.

“Aneh bagaimana?”

“Kalau bicara dia tidak mau melihat ke muka Aldi. Cuma melihat sebentar lalu matanya melihat ke arah lain.” Tangan Aldi bergerak-gerak tak tentu arah.  

“Aldi takut, Bu. Mata Martin bergerak ke sana ke mari, cepat sekali!”

Lalu tangan Aldi bertemu jadi satu. “Selama pelajaran Martin hanya menunduk dan mainan karet di tangan seperti ini. Itu kan, tidak boleh!”

Ibu tersenyum lagi. “Aldi sudah ceritakan ke Bu Susan?”

Aldi mengangguk dengan cepat. “Sudah. Waktu istirahat tadi Aldi ke kantor guru dan bertanya pada Bu Susan.”

“Bu Susan bilang kalau Martin itu anak yang spesial.”

“ Tadi Bu Susan bilang juga kalau Martin itu sakit….  Apa ya Bu, namanya susah.”

Aldi seperti sedang mengingat-ingat, sementara Ibu menunggu dengan sabar.

“Namanya seperti sayur yang suka Ibu bikin sup krim kalau Aldi sakit pilek.”

Ibu tampak berpikir sebentar.  “Maksud Aldi, asparagus?”

“Iya, nama penyakitnya mirip nama sayuran itu.”

Ibu mengangguk.  “Yang disebut Bu Susan, asperger bukan?”

Aldi mengangguk dengan bersemangat.

“Oke, nanti kita ngobrol lagi setelah makan ya, Nak.”

****

Ternyata setelah makan Aldi ingin membaca majalah anak-anak yang baru saja datang, jadi Ibu mencari tahu dulu penjelasan yang mudah mengenai asperger untuk Aldi.

Tiba-tiba Aldi mendekat sambil membawa majalah yang sedang dia baca.

“Ibu, apa Martin sakit autis ya?  Disini ada bacaan tentang autis, kok mirip sama Martin.”

Ibu mengangguk dan tersenyum.  “Iya, Nak.  Sini Ibu jelaskan.”

Lalu Ibu menerangkan bahwa asperger adalah salah satu bentuk dari autisme.  Anak-anak asperger umumnya mempunyai kecerdasan normal.  

“Makanya, Martin bisa belajar di sekolah Aldi.”

Aldi mendengarkan baik-baik penjelasan Ibu.

“Tapi memang Martin sulit untuk ngobrol seperti Aldi dan teman-teman Aldi lainnya. Dia akan sulit mengikuti dan hanya akan banyak diam.”

Sekarang Aldi mengangguk-angguk.

“Jadi Aldi jangan menjauhi Martin. Mungkin dia sangat pemalu dan sulit berteman.” 

****

“Aldi! Martin itu sombong ya, aku panggil tidak mau menoleh,” Bian menyapa Aldi keesokan harinya.

Aldi melihat Martin sudah duduk di bangkunya. Masih tetap menunduk dan memainkan karet di tangannya.

Aldi mengajak Bian dan beberapa teman lainnya ke luar kelas. Dia menceritakan tentang Martin, seperti yang sudah dijelaskan kemarin oleh ibunya.

“Jadi dia bukan bandel ya?  Soalnya kemarin aku lihat dia seperti tidak memperhatikan waktu Bu Susan menerangkan,”  ujar Nanu.

“Iya, soalnya anak asperger memang suka konsentrasi pada sesuatu. Kalau Martin, dia suka bermain dengan karet di tangannya, tapi sebenarnya dia mendengarkan.”

Teman-teman Aldi tampak mengerti. Bertambah lagi pengetahuan mereka bahwa anak-anak autis tidak untuk dijauhi karena keunikannya, tapi justru harus dirangkul dan dibantu dalam bergaul.

Bu Susan masuk ke dalam kelas. Beliau mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Aldi dan teman-temannya. Beliau senang anak-anak sudah bisa memahami keadaan teman mereka yang istimewa itu.

****

Beberapa hari kemudian Aldi tampak gembira dan terburu-buru masuk ke dalam rumah.  Dia tidak sabar ingin bercerita pada ibunya.

“Ibu, hari ini Martin sudah mau tersenyum meski hanya sebentar. Dia juga mau waktu Aldi ajak ke lapangan basket. Tapi cuma duduk di pinggir lapangannya saja.”

Ibu mengambil tas dari punggung Aldi dan mengusap kepalanya.

“Syukurlah. Aldi memang teman yang baik. Teman yan g hebat!”

**** 

Ditulis oleh: Oky . Noorsari

Reviewer: Kayla M.

Baca Juga:   [Cerpen] Ri(s)a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *