Bermain Dengan Makhluk Gaib

Ada banyak ragam permainan ‘menggunakan’ makhluk gaib. Beberapa yang kita kenal adalah Jelangkung, Reog, Jatilan dan lain sebagainya. Banyak orang-orang ‘linuwih’ yang memanfaatkan makhluk tak kasat mata tersebut. Ada yang hanya menggunakan sebagai sarana bermain, iseng dan untuk mencari nafkah.

Salah satu yang digunakan untuk mencari nafkah adalahJatilan atau Reog. Jatilan dan Reog hampir sejenis atau setipe. Perbedaan kedua kesenian tradisional tersebut terletak pada perangkat atau aksesoris yang dipakai. Kalau Reog menggunakan tokoh-tokoh pewayangan sedangkan kalau Jatilan menggunakan jaran kepang. Jaran kepang atau kuda tiruan tersebut terbuat dari anyaman bambu. Kuda tiruan tersebut banyak dijumpai di daerah-daerah Jawa.

Kedua kesenian tersebut selalu menyatukan unsur gerakan tari dengan unsur magis. Unsur magis terlihat dari gerak-gerik penari yang dapat trance (ndadi/kesurupan). Trance dapat disaksikan pada pementasan Jatilan atau Reog secara umum. Namun biasanya adegan trance tersebut muncul di bagian akhir pertunjukan. Inilah bagian yang paling menarik dari sebuah pementasan Reog atau Jatilan. Menurut Daniel L pals (1996: 181) konsep trance sebenarnya bagian dari sebuah acara ritual. Jadi rangkaian upacara ritual tersebut terjadi pada klan tertentu.

Keterkaitan upacara ritual dalam komunitas atau klan tertentu tersebut menghasilkan pola-pola tradisi yang sudah ada. Ciri atau pola yang sudah ada dan hidup di masyarakat adalah ciri kesederhanaan seperti kesenian Jatilan tersebut. Tidak perlu perayaan yang besar-besaran. Malah Jatilan atau Reog tidak perlu perjamuan yang mewah. Hanya yang dibutuhkan adalah aksesoris dan gamelan yang bisa dimanfaatkan sepanjang waktu. Tidak perlu sekali pakai.

Kalau pun menggunakan barang yang sekali pakai, maka hal itu masih bisa terjangkau. Bunga, kemenyan dan barang-barang lain yang mudah didapat dan murah harganya. Dengan biaya yang terjangkau tersebut membuat banyak orang terpukau. Apalagi ditambah unsur mistis yang melatarbelakangi kesenian tradisional tersebut. Lengkap sudah kehebatan sebuah kesenian tersebut. Sampai detik ini, kesenian tradisional seperti Jatilan dan Reog masih menjadi idola penulis.

Demikian juga masyarakat di pedesaan juga sangat tertarik dengan kesenian ini. Namun sayang, kesenian ini lambat laun tergerus oleh kemajuan zaman. Apalagi tidak banyak orang yang rela merogoh kocek untuk nanggap (menyewa) Jatilan atau Reog ini. Oleh karena itu, kalau pun ada masyarakat masih mempertahankan itu hanya sekadar untuk melestarikan seni budaya tersebut. Hilang atau tidak. Musnah atau tidak, tergantung dari masyarakat yang peduli dan juga pemerintah. Jika semakin berkurang orang yang peduli dengan kesenian tradisional tersebut maka Jatilan dan Reog akan punah.

Namun untungnya masih ada sebagian penduduk yang memanfaatkan Jatilan atau Reog untuk kegiatan sosial. Ada juga yang memanfaatkan untuk sarana upacara seperti merti desa atau bersih desa. Dengan bantuan dana desa atau swadaya masyarakat, Jatilan atau Reog bisa menjadi sarana gotong royong. Nilai-nilai gotong royong tercermin dari upaya saling memberi dan melengkapi kekurangan sarana. Misalnya untuk kebutuhan artistik maka dilaksanakan pengadaan instrumen baru, tempat latihan dan pengadaan kostum baru. Memang kebutuhan tersebut tidak sedikit. Oleh karena itu, dituntut kepedulian masyarakat dan pemerintah untuk melestarikan.

Saya pernah menjadi pemain Reog di kampung. Waktu itu saya masih kecil, usia SD. Pada saat itu, saya menjadi salah satu wayang yang menari. Bukan pemakai topeng seperti monyet, barongan atau ‘monster’ lainnya. Saya bermain atau menari yang halus dengan dandanan seorang ksatria. Tentu sebagai ksatria, saya tidak perlu topeng hanya rias wajah atau make up saja. Riasan pun ala kadarnya, cuma menambah kumis, bulu dada dan jambang. Kalau pun ada make up tambahan hanya alis dan bibir. Tentu tidak hanya make up, saya juga berdandan ala ksatria.

Dalam kondisi seperti itu, ksatria, tidak menutup kemungkinan untuk trance. Ada teman-teman yang menjadi ksatria juga bisa trance saat akhir pertunjukan. Namun entah mengapa saya tidak bisa ikut trance. Padahal kesempatan itu ada. Ada beberapa orang yang trance kemudian menggigit yang tidak trance dan akhirnya tertular. Dia ikut trance. Padahal saat melihat teman-teman bisa trance rasanya kok asik. Mereka bisa menari dengan bebas, makan dengan nyaman dan seolah-olah sanggup melakukan apa pun.

Ada beberapa yang trance bisa memancat pohon, makan bunga, makan kemenyan, mengupas kelapa dengan gigi, makan neon, makan silet, makan ayam mentah dan makan barang-barang yang tidak lazim dikonsumsi. Bahkan ada yang berperangai seperti ular dan monyet. Wah, tampaknya asik dan mendebarkan melihat mereka beraksi seperti itu. Ya, memang kebanyakan yang sudah trance akan mengalami rasa capek yang luar biasa. Sebab mereka melakukan itu dalam kondisi yang tidak sadar.

Di saat mereka sudah kepayahan, datanglah ‘pawang’ atau penyembuh orang yang trance. Dengan kekuatan yang dimiliki, dia sanggup ‘menyembuhkan’ orang-orang yang ndadi. Biasanya pawang tersebut akan menangani orang-orang yang trance satu per satu sampai semua orang dapat disembuhkan. Nah, berhubung saya tidak pernah bisa trance maka saya hanya menjadi penonton. Saya hanya berdiri melihat teman-teman trance ketika saya selesai menari.

Walaupun tidak bisa trance saya merasa senang sebab bisa ikut ke sana sini. Kami sering ditanggap di beberapa kampung. Bahkan kami berjalan jauh untuk ‘menawarkan’ diri. Saat disewa itulah kami mendapat bayaran. Tentu bayaran yang telah disepakati dan cukup banyak. Namun entah mengapa pada waktu itu saya tidak pernah menerima bayaran sepeser pun. Mungkin uang itu dipakai oleh para pengelola dan memberi perangkat Reog. Entahlah. Mungkin juga pada waktu itu saya belum mengerti tentang uang.

Namun saya bersyukur pernah bermain sebagai penari Reog. Ya, minimal saya mengerti tentang dunia lain. Tentang makhluk gaib yang bisa diminta bantuan. Kadang kita undang dan kadang juga kita usir. Pada saat itulah kita, manusia, memanfaatkan makhluk gaib untuk mencari uang. Tentu saja itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang profesional. Jadi kalau Anda belum mampu, jangan pernah bermain-main dengan makhluk gaib. Tersebab mempermainkan makhluk gaib, bisa-bisa nyawa kita taruhannya. *

Ditulis oleh: Jack Sulistya

Reviewer: Hapsari

Referensi

Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, alih bahasa oleh Ali Noer Zaman ( Yogyakarta: Qalam, 1996), 181.

Baca Juga:   [Cernak] Kehilangan Ponsel di Sekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *