Berbagi Itu Baik, Tapi…

Satu hal yang saya perhatikan dari kebanyakan orang Indonesia adalah semangat untuk berbagi. Lebih-lebih di media sosial, kecepatan informasi kini mungkin mengalahkan cepatnya perambatan cahaya. Bagaimana dalam hitungan detik saja, sebuah tulisan, foto atau video bisa menyebar dan menjadi viral. Sayangnya, tidak semua yang dibagi warganet adalah hal positif. Banyak beredar konten-konten yang justru membuat kita resah.

Entah siapa yang memulai pertama kali, membuat kesalahan orang lain menjadi tontonan yang disebarluaskan kini menjadi sebuah tren. Rasanya, sigap sekali orang-orang merekam aksi siapa pun yang dianggap salah. Akhirnya, ketika video menjadi viral, banjirlah para haters memberondong komentar dan memberikan penilaian kepada si pelaku –yang belum tentu ia selalu melakukan kesalahan.

Dari banyak kasus yang viral, tidak sedikit yang melibatkan perempuan. Potongan video yang memuat kekerasan, kata-kata kasar dan hal tidak baik lain. Masih segar  dalam ingatan kita, tentang fenomena pelakor. Pelakor adalah akronim dari perebut lelaki orang, sebuah sebutan untuk perempuan yang menjadi selingkuhan atau orang ke-tiga dalam rumah tangga orang lain. Kalau tidak salah, istilah ini dibuat oleh sebuah akun gosip untuk menyebut beberapa selebriti yang katanya merebut suami orang lain. Mungkin nantinya, seperti warganet dan swafoto, bisa jadi istilah pelakor akan masuk ke KBBI karena sangat sering digunakan orang-orang.

Kembali lagi ke perempuan, fenomena pelakor ini mungkin menambah daftar alasan keresahan para istri. Kalau dihitung-hitung, kasus pelakor ini amat banyak dan terus bertambah. Tidak hanya kalangan selebriti saja yang diperbincangkan, bahkan orang-orang biasa pun kini bisa jadi bahan komentar warganet. Si perempuan yang diduga pelakor, akan dibantai habis-habisan dengan komentar pedas dari haters yang entah datang dari mana, tiba-tiba ikut menjadi hakim dalam urusan orang lain.

Bagaimana perempuan tidak ngeri dengan fenomena pelakor? Beraneka macam kisah yang ramai di sosial media, kebanyakan bukan sekadar perselingkuhan yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Bukan pula perselingkuhan yang dilakukan dengan perempuan lain yang tidak berada di lingkungan yang berbeda dengan istri, melainkan sahabat si istri. Ini yang terjadi belum lama dan videonya telah ditonton jutaan orang. Seorang istri melabrak sahabatnya sendiri yang diduga berselingkuh dengan suaminya.

Kasus ini semakin heboh, lantaran si perempuan yang melabrak sahabatnya sendiri dan melemparinya dengan pecahan uang seratus ribu dan lima puluh ribu-an. Ia mengetahui bahwa sahabatnya ini –yang diduga pelakor—, telah menerima sejumlah uang dari suaminya. Si pelakor bahkan memberikan ‘kode’ bahwa ia menginginkan rumah kepada suami sahabatnya. Jumlah uang yang dilemparkan, katanya, cukup untuk beli rumah. Kebayang ya, seberapa banyak uang itu?1

Rasanya, fenomena pelakor ini memang baru-baru ini saja banyak dibicarakan. Tetapi, sebetulnya perselingkuhan bukanlah sebuah kasus baru. Ada 324. 527 kasus perceraian dari 2.218.130 pernikahan pada tahun 2013, data ini bersumber dari BKKBN dan disebutkan bahwa setiap tahun, angka perceraian meningkat sebanyak 25%. Diketahui, perselingkuhan adalah penyebab tertinggi ke-dua dalam perceraian.2 Jika peningkatan jumlah perceraian tiap tahunnya kita asumsikan sama besar, maka tahun 2018 ini sudah bertambah 100% dari jumlah yang tercatat pada tahun 2013.

Kalau angkanya sudah sebesar itu sejak dulu, fenomena Bu Dendy –istri yang melabrak dengan melemparkan uang— hanyalah satu dari ribuan kasus perselingkuhan yang terjadi di Indonesia. Kita memang serasa baru saja melihat, jelas karena kita tahu bahwa kekuatan media sosial kini semakin terasa. Maka, benar saja yang dikatakan oleh Fariz Alneizar dalam bukunya berjudul Muslim Pentol Korek: Kita Adalah Bangsa yang Berjihad Melawan Like, Comment, Share. Sensor empati kita semua tumpul dan kejadian yang mustinya luar biasa akan menjadi biasa.3

Sebagai seorang perempuan yang belum menikah, saya sedikit ngeri. Apakah sekarang, menikah menjadi semenakutkan itu? Bahkan suami bisa digoda oleh sahabat sendiri. Saya rasa, ketakutan juga menyerang para perempuan yang telah menikah. Sangat mungkin, istri-istri di luar sana semakin insecure. Mudah berburuk sangka kepada suami. Para istri menjadi over-protective dan cenderung membuat hubungan menjadi tidak sehat. Rajin mengecek handphone suami, tidak berhenti bertanya pergi dengan siapa atau jadi mudah curiga.

Tapi yang sebenarnya lebih mengerikan adalah ketika para perempuan meniru langkah yang demikian tadi. Menyebarkan perselingkuhan pasangannya di sosial media. Bisa jadi, suatu waktu nanti, kita semakin terbiasa dengan berita semacam itu. Faktanya, hampir separuh (49%) dari total pengguna internet di Indonesia adalah perempuan. Sedangkan jika ditinjau dari kelompok usia, remaja berusia 18-25 tahun menempati jumlah tertinggi.4

Kategori usia tersebut juga dinilai sangat aktif di sosial media. Artinya, kelompok usia remaja akhir sampai dewasa muda, adalah mereka yang akan sering melihat kasus viral. Ketika pelakor ini semakin biasa muncul ke permukaan, hal ini akan dianggap biasa. Bahkan, bergonta-ganti pasangan bisa jadi hal yang dianggap wajar. Bagaimana tidak? Karena yang halal saja wajar didatangi wanita lain.

Bagi saya, hal pertama yang sebetulnya harus kita lakukan adalah berhenti berpartisipasi dalam penyebaran video atau pun konten yang mengangkat masalah pelakor ini. Satu alasan kuat, jelas bahwa jika kita memilih untuk membaginya maka kita turut menyebarkan keburukan orang lain. Apa bedanya dengan bergosip? Lebih parahnya, jangkauan media sosial jauh lebih luas bahkan membentuk jaringan. Kalau saya sebut, sebetulnya ini gibah (bergosip) juga bisa disebut gibah digital atau malah fitnah.

Mungkin kita hanya membagi satu kali, tetapi ada sepuluh teman yang turut membagikan lalu disambung lagi dibagi oleh teman dari teman kita yang turut membagikan sebelumnya. Jika kita anggap setiap satu orang membagi kepada sepuluh lainnya, kita telah membuat ratusan bahkan ribuan orang ikut menyaksikannya. Apakah itu jumlah yang sedikit? Kalau saya ibaratkan uang, satu juta dikurangi seratus rupiah saja tentu tidak akan terbilang satu juta lagi. Kadang begitulah hal kecil. Seringkali, menjadi bernilai ketika kita lihat dengan lebih luas.

Sebagai perempuan, kita mungkin kesal melihat mereka yang sesama perempuan tersakiti, tetapi menyebarkan bukan cara yang bijak. Kita juga tahu, haters telah mewabah di Indonesia. Banyak sekali orang yang kemudian alih profesi menjadi hakim, membuat vonis benar-salah. Kesalahan pelakor, sebagaimana sebutannya ialah merebut milik orang lain. Tetapi apakah cibiran, kebencian dan segala perkataan buruk yang dialamatkan adalah hal yang perlu dilakukan? Sementara, yang kita lihat hanyalah sebatas video berdurasi singkat. Tentu tidak seberapa jika dibandingkan dengan lama waktu si pasangan menjalani rumah tangga. Apakah kita tahu yang terjadi dibalik itu semua?

Kita tentu tidak dapat menilai hanya dari sisi pelakor saja. Ada beberapa faktor yang sesungguhnya perlu diteliti dari hubungan suami dan istri. Pelakor adalah faktor luar, sementara penyebab yang lain bisa diakibatkan oleh faktor kebutuhan yang tidak terpenuhi, baik ekonomi atau biologis. Bisa juga karena alasan psikologis, seperti pandangan permisif terhadap perselingkuhan. Hal itu, tentu tidak mengarah pada si pelakor, tetapi pada pasangan suami istri.5

Berhenti untuk membagi video soal pelakor artinya membantu perempuan untuk meredam ketakutan-ketakutan akan terjadinya hal yang serupa. Tidak ikut menyebarkan artinya membantu sesama perempuan untuk menjaga kehormatannya serta suaminya. Berbagi itu memang baik. Tapi ingat, berbagi keburukan dan kebaikan itu sama-sama membutuhkan tenaga. Paling sederhana, kalau di internet ya, sama-sama membutuhkan paket data. Kalau sama-sama perlu tenaga, masihkah memilih menyebar yang buruk?

Ditulis oleh: Hapsari T. Mumpuni

Reviewer: Jack Sulistya

Referensi:

  1. http://wartakota.tribunnews.com/2018/02/20/kisah-bu-dendy-yang-menjadi-terkenal-karena-meluapkan-amarah-pada-teman-dekat-yang-disebut-pelakor
  2. Zalafi, Zahratika, 2015. Skripsi: Dinamika Psikologi Perempuan yang Mengalami Perselingkuhan Suami. Yogyakarta: UIN.
  3. Fariz Alniezar. 2017. Muslim Pentol Korek. Jakarta: Elex Media Komputindo.
  4. Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), 2015. Profil Pengguna Internet Indonesia 2014. Jakarta: PUSKAKOM UI.
  5. Jannah, Devi Khairatul, 2013. Faktor Penyebab Dan Dampak Perselingkuhan Dalam Pernikahan Jarak Jauh. E-Journal Emphaty, F-Psikologi UAD.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *