Berbagi Cahaya Agar Bisa Berjalan Bersama

Duh, bagaimana bisa aku terjebak di indekos ini? Kamar mandi kumuh, penghuni kurang ramah, bebas keluar masuk laki-laki, dan teman satu kelas, panggil saja Riana yang memiliki hobi keluar malam. Padahal dalam doaku kemarin meminta tempat yang lebih nyaman, murah, lah ini malah dapatnya begini.

Rasanya enggan membereskan barang-barang yang telah kubawa dari indekos lama. Aku benar-benar ingin segera mendapatkan indekos baru. Tetapi, sayang lima ratus ribu yang telah kubayarkan kalau langsung pindah. Barangkali aku bisa mencari tempat lain sambil jalan. Nanti harus kupastikan nyaman berada di sana. Kebetulan, Afni (bukan nama sebenarnya) ingin pindah dari indekosnya karena terlalu jauh. Aku bisa beralasan menemani Afni agar Riana tak tersinggung sebab kepindahanku yang belum genap sebulan di indekos ini.

Hampir satu setengah bulan aku berkeliling di sekitar kampus. Masih belum menemukan tempat baru. Aku mulai putus asa. Apalagi uang tabungan kian menipis. Tidak memungkinkan untuk menerima tawaran indekos yang lebih mahal. Sepertinya mesti bertahan beberapa bulan. Walaupun rasanya sulit. Minggu ini aku memilih pulang kampung agar tidak berlama-lama di kamar.

“Hufff,” keluhku.

“Kenapa, Dik?” tanya Mama.

“Gak betah di indekos yang sekarang, Ma, Kumuh, apalagi Riana suka keluar malam dan kadang bawa cowok ke kamar,” aku melanjutkan keluhanku.

“Hemm, katanya mau nyari baru? Tetapi sebentar, Dik, kalau bicara kumuh, memang rumah kita dulu seperti apa, sih? Bahkan kita tergolong baru-baru ini mempunyai kamar mandi. Waktu rumah masih beralaskan tanah, kamu baik-baik saja. Tidak mengeluh,” tutur Mama.

“Baiklah, mungkin aku bisa toleransi dengan keadaan kamarnya. Lah, untuk Riana yang keluar malam bagaimana, Ma?” lanjutku tak mau kalah dari Mama.

“Nah, itu PR kamu! Jadikan ladang amal!”

“Susah, Ma. Dia enggak mungkin mau kuajak ke acara-acara pengajian, apalagi mendengar nasehatku.” Aku masih terus protes.

“Ya jangan langsung kamu ajak ke pengajian, berikan cahaya sesuai kebutuhannya, sayang!” ucap Mama.
Selama liburan di rumah, aku mempertimbangkan saran Mama. Benar, mungkin aku bisa pelan-pelan mendekati Riana dan semoga nanti, dia bisa menjadi partnerku memperdalam ilmu agama.

Aku kembali ke Yogyakarta dengan semangat empat lima. Aku mulai menata kamar yang tadinya seperti gudang karena barang-barang yang kuangkut dari indekos sebelumnya masih menumpuk. Kubersihkan dan kuhias dengan berbagai pernak-pernik sehingga kesan kotor pun hilang. Aku sedang berusaha untuk beradaptasi.

Suatu sore, Riana tiba-tiba mendatangi kamarku. Tak biasanya dia pulang sebelum tengah malam.

“Mbak lagi ngapain?” selidiknya sambil mengamatiku yang sibuk dengan si putih (laptopku).

“Iseng, Dik. Nulis-nulis saja,” jawabku.

“Eh, Mbak Fit suka banget dah sama lagu itu? Dari tadi diulang-ulang terus. Lagi jatuh cinta?”

Dia penasaran kenapa aku terus-menerus mendengarkan lagu Surat Cinta Untuk Starla. Akhir-akhir ini aku memang suka sekali dengan lagu itu.

“Karena lagu ini seakan mewakili perasaanku pada-Nya, Dik.” jelasku pada Riana.

“Cieee, Mbak Fit lagi jatuh cinta, sama siapa, Mbak?” ejeknya.

“Hehe, sama Allah, sayang. Jadi, bagiku lagu ini memiliki makna yang dalam, tentang surat cintaku untuk Allah. Ada lirik-lirik yang kuubah tentunya,” kataku sambil tertawa ringan.

Kutuliskan kenangan tentang, caraku menemukan diri-Nya
Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku pada-Nya

“Aku sedang menuliskan bagaimana awal mula aku mengenal-Nya, Dik. Hingga aku mempercayakan hatiku sepenuhnya hanya pada Dia.”

Takkan habis sejuta lagu, tuk menceritakan cantik-Nya
Dan teramat panjang puisi, tuk menyuratkan cinta ini

“Aku membayangkan semua nikmat yang Dia berikan, proses pencernaan, pernafasan, saraf, peredaran darah, dan yang lain. Seandainya satu saja, Dia lelah mengurus karena kita terlalu banyak dosa, maka selesailah perjalanan kita di dunia. Itu baru yang ada dalam tubuh kita, belum yang di luarnya, Dik,” ujarku sembari berkaca-kaca.

Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untuk-Nya

“Kalau bagian ini lebih pada doa sih, Dik! Aku ingin mencintai Dia tanpa menyisakan sedikit pun untuk dunia. Dan satu lagi, aku selalu berharap tidak sampai tua sudah bisa menemui Dia. Maksudnya, semoga tugasku di dunia selesai sebelum aku menua. Jadi, masa tua yang seharusnya kulewatkan di dunia, aku ingin bersama-Nya.”

“Iya juga ya, kalo salah satu saja Allah sudah enggak mau mengurusi, kelar kita, Mbak, tetapi bagaimana Mbak bisa sedalam itu mencintai-Nya? Maaf nih ya, Mbak, aneh saja, karena aku baru kali ini melihat orang kayak Mbak Fit. Sebelumnya belum pernah bertemu di Jakarta.”

“Jawabnya, ada di lirik brikut , Dik,” ucapku.

Aku pernah berpikir tentang, hidupku tanpa ada diri-Nya
Tak akan lebih indah dari yang kujalani sampai kini
Aku slalu bermimpi tentang, indah hari tua bersama-Nya
Tetap cantik rambut panjangku, meskipun nanti tak hitam lagi

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup mereka yang tidak mengenal Allah. Betapa sulitnya menghadapi kebohongan orang yang dipercaya, susahnya menerima kenyataan yang tak sesuai harapan. Hemm…kalau aku, Dik, ketika sudah dibalikkan lagi bahwa Allah maha tahu yang terbaik, tidak ada istilah galau. Walaupun tentu melalui proses, rasa kecewa pasti ada, tetapi tidak lama. Aku bersyukur Dia mengizinkanku mengenal-Nya, Dik,” kataku.

Percakapan kami masih berlanjut sampai dini hari. Banyak hal yang Riana ceritakan. Entah kenapa dia menjelma sosok lain malam itu. Yang kutangkap, pada dasarnya dia ingin sekali berubah. Belajar memasak, berhenti pacaran, dan tidak lagi keluar malam pulang pagi. Tetapi dia belum memiliki keberanian untuk itu. Masih banyak alasan yang menghambat langkah untuk meninggalkan dunianya sekarang. Yah, aku lega bisa mengetahuinya.

Singkat cerita, aku sering berdiskusi dengannya di jam-jam orang tertidur. Kami sering membahas lagu-lagu seperti pertama dia datang ke kakamarku waktu itu. Terkadang selesai subuh baru kami berhenti. Aku sengaja mengajaknya berbincang hingga fajar. Sebab aku tidak ingin dia kehilangan solat subuh.

Tak terasa hampir empat bulan aku bertahan di indekos ini. Anehnya, aku tidak lagi mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang tadinya selalu menjadi topik utama saat cerita pada Mama. Kini malah terasa berat meninggalkan Riana. Dia butuh seorang teman untuk berbagi.

Pada satu malam, ketika aku sudah terlelap, Riana mengetuk pintu sambil menangis. Aku segera mempersilakan dia masuk ke kamarku. Kubiarkan ia menyelesaikan tangisannya beberapa saat. Setelahnya, Riana mengatakan bahwa pacarnya berselingkuh. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Riana kecewa, sedih dan pastinya marah.

“Dik, mau mendengar makna dari sebuah lagu lagi?” tnyaku pada Riana.

“Lagu apa, Mbak?” Meski airmatanya belum kering, ia tampak tertarik dengan tawaranku.

Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali
Kau terluka lagi, dari cinta rumit yang kau jalani
Allah ingin kau merasa, kamu mengerti Allah mengerti kamu
Allah ingin kau sadari, cintamu bukanlah dia
Dia ada di sini, pahami kau tak pernah sendiri
Karena Allah selalu, di dekatmu saat engkau terjatuh

“Lagu Noah itu mungkin tidak memiliki arti seperti yang kumaknai. Tetapi, kira-kira isinya mirip tidak dengan yang Adik alami sekarang jika kuubah liriknya menjadi begitu? Bahwa kecewa itu menghampiri Riana lagi karena cinta rumit yang dijalani Riana. Allah hanya ingin Riana mengerti, tidak ada yang lebih memahami Riana selain Dia. Dan, Adit bukan cintamu yang sebenarnya. Allah ingin melindungimu darinya. Ada yang jauh lebih baik di depan. Insyaallah. Dia selalu di sini, Dik, menemanimu.” Aku tersenyum padanya.

Riana tak banyak menanggapi kalimat-kalimatku. Namun terlihat mendengarkan dengan seksama. Hari-hari selanjutnya, perubahan-perubahan mulai muncul pada Riana. Bahkan saat ini dia jauh lebih rajin datang ke majelis ilmu dibandingkan aku. Setelah melewati beberapa bulan di indekos ini, akhirnya aku mengerti maksud dari hadis yang diriwayatkan Aisyah r.a : adalah dulu nabi memerintahkan kami untuk berinteraksi sesuai dengan posisinya (H.R Abu Daud). Bahwa berdakwah pun harus memperhatikan obyek dakwah kita. Cahaya yang berlebihan justru akan menyilaukan. Dan kita berada di tempat kita sekarang, bukan tanpa tujuan baik dari Allah. Jadi, lakukan apa yang harus kita lakukan! Hasilnya, biarkan Dia yang menentukan.

*****

Ditulis oleh: Fitri Ayu Mustika

Reviewer: Seno NS.

Baca Juga:   [Cerpen] Resep Rahasia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *