Bekal Nasi Goreng Buatan Ibu

Ketika ingat bekal makan siang, aku seperti merasa bersalah kepada ibu. Seperti hari ini, bekal itu masih kusimpan di dalam tas. Belum kumakan. Padahal aku suka makan bersama teman-teman. Pada jam istirahat, di bangku taman sekolah. Di sana kami sering makan sambil bertukar lauk makanan. Namun, sejak kejadian kemarin aku seperti kehilangan mereka. Juga merasa bersalah kepada ibu yang selalu membuatkan bekal makanan.

“Ilham! Aku dibikinin ayam goreng nih. Entar kita makan bareng di taman, ya?” ajak saat melihatku keluar kelas lebih dulu, sesaat setelah bel istirahat berbunyi.

“Oh, iya. Aku ke toilet dulu ya? Kamu duluan saja ke taman!”

Setiap hari Arka selalu dibawakan bekal makanan yang enak-enak oleh mamanya. Biasanya dibawain lauk rendang, ikan, atau ayam goreng. Arka paling suka ayam goreng. Sehingga bekal makanannya sering berlauk ayam goreng. Di antara kami, murid-murid kelas enam SD, Arka yang paling mewah bekal makanannya. Maka, wajar saja jika badannya gemuk.

Aku merasa beruntung punya teman baik seperti Arka. Dia selalu membawa lauk berlebih untuk dibagi denganku. Bahkan, kadang dia juga membagi lauknya dengan Rino dan Rangga. Kami berempat sering makan siang bersama di taman sekolah.

Hari ini aku sengaja menghindar dari mereka. Aku merasa malu untuk makan bersama mereka di taman. Oleh karena itu, begitu bel istirahat berbunyi, aku mendahului pergi ke toilet. Sebenarnya aku tidak ingin buang air. Ini hanya caraku saja agar bisa menghindar.

Aku di toilet agak lama. Setelah itu mampir ke mushala. Sengaja aku habiskan waktu istirahat siang di sana. Meski perutku terasa perih menahan lapar, tapi tetap kutahan. Lebih baik aku sakit perut, ketimbang sakit menahan malu, kataku dalam hati. Aku malu karena bekal makanku tidak selezat bekal mereka.

Ibu selalu membuatkan bekal makan yang sama untukku. Setiap pagi dia selalu memasak nasi goreng. Ibu jarang masak ayam goreng, rendang, atau goreng ikan. Kalaupun masak lauk seperti itu, biasanya hanya pada hari tertentu.

Ibu tidak punya banyak waktu di pagi hari. Dia selalu bangun subuh, mencuci baju, menyapu, dan mengurus adikku. Belum lagi menyiapkan perlengkapan untuk Ayah. Sehingga ibu sering membuatkan sarapan yang sederhana. Memasak nasi goreng atau menggoreng telur.

Sebenarnya bukan alasan kesibukan saja. Sejak kami pindah ke kota ini enam bulan yang lalu, kami lebih sering berhemat. Kata Ayah biaya hidup di Jakarta lebih mahal di banding hidup di kampung. Sehingga kami sekeluarga tidak bisa seenaknya belanja. Apalagi setiap hari minta makanan yang enak-enak.

“Di sini apa-apa mahal. Tidak seperti di kampung. Jadi, kita tidak boleh boros. Apalagi ayah juga baru beberapa bulan bekerja di tempat yang baru,” kata Ibu pagi tadi saat menyiapkan bekal untukku.

Bekal yang kubawa ini juga dalam rangka berhemat. Ibu tidak memberiku uang jajan. Sebagai gantinya, Ibu membawakanku bekal makanan. Nasi goreng yang aku sukai. Aku tahu tujuan ibu itu baik. Agar aku tidak kelaparan. Pun agar tidak terlalu membebani Ayah dalam menanggung biaya hidup.

“Kelak, kalau kamu besar jadilah seperti ayahmu,” Ibu selalu menasehatiku dengan kalimat yang sama. Setiap pagi, saat aku pamit berangkat sekolah. “Dia tidak pernah mengeluh. Selalu bekerja keras membahagiakan kita. Ayah selalu jadi laki-laki yang bertanggung jawab. Selalu menjaga amanah yang diberikan kepadanya.”

“Iya, Bu.”

Ibu melepas pelukannya setelah mengajakku membaca doa dan ayat kursi. Dia tersenyum, menatapku sambil menempelkan kedua telapak tangannya ke pipiku. Kadang aku merasa seperti anak kecil yang selalu dimanja ibunya. Kebiasaan setiap pagi itu membuatku tidak bisa jauh dari Ibu. Apalagi mengecewakannya dan membuat Ibu sedih. Aku takut jika Ibu tahu yang aku lakukan pada nasi goreng itu, dia akan kecewa.

Siang ini aku tidak memakan bekal nasi goreng buatan Ibu. Aku biarkan tetap di dalam tas. Tidak kusentuh sedikitpun. Bahkan kusembunyikan dari teman-temanku. Aku malu, karena tidak bisa berbagi lauk dengan temanku. Mereka tidak suka nasi goreng. Maka, ketika kutawarkan nasi gorengku, mereka menolak.

Meski mereka bilang tidak mengapa, tapi aku tidak enak. Aku mendapat lauk dari mereka, tapi aku tidak membagi laukku kepada mereka. Karena memang nasi goreng yang kubawa tidak ada lauknya. Hanya nasi goreng, bahkan tanpa telur.

Aku suka nasi goreng buatan Ibu, tapi aku kecewa tidak bisa berbagi dengan teman-temanku. Jika aku mengatakan semua ini kepada Ibu, tentu dia akan kecewa. Kecewa karena aku tidak memakan bekal yang dia masak. Mungkin juga kecewa karena aku tidak bisa menjadi seperti Ayah. Laki-laki yang tidak pernah mengeluh dan menjaga amanah.

Iya, setiap pagi Ibu berpesan kepadaku agar jangan telat makan. Bekal itu untuk makan siang. Jika tidak aku makan, sama saja aku tidak menjaga amanah Ibu. Karena aku pernah berjanji akan memakan bekal itu tepat waktu.

-o0Oo

Sepulang sekolah aku melihat Ayah sudah ada di rumah. Sepertinya baru pulang kerja. Tidak seperti biasanya, hari ini Ayah pulang lebih awal.

“Bagaimana sekolahmu hari ini, Nak?” tanya Ayah saat kusalami dan kucium tangannya.

“Alhamdulillah, Yah. Aman. Hehe ….” Aku setengah bercanda menjawab pertanyaan Ayah.

Tidak lama kemudian Ibu menghampiri kami. Aku menyalami Ibu dan mencium tangannya. Ada rasa yang berbeda. Sepertinya Ibu merasakan hal itu. Aku merasa agak gugup. Takut Ibu tahu kalau bekal nasi gorengnya masih utuh. Masih ada di dalam tas yang kugendong.

“Bu,” Aku coba beranikan diri mengatakan tentang bekal itu kepada Ibu. “Ilham mau bilang sesuatu.”

“Hah? Emangnya ada apa, Nak? Tidak biasanya kamu minta izin mau bilang sesuatu ke Ibu.”

“Maaf, Bu. Bekal nasi gorengnya belum kumakan.”

“Oh, memangnya kenapa? Apa rasanya tidak enak?”

Aku seperti salah tingkah ketika menatap mata Ibu. Meskipun aku melihat Ibu tersenyum, tapi tetap saja masih gugup. Aku masih takut Ibu kecewa jika tahu alasanku. Tapi aku juga tidak mungkin menyembunyikannya dari Ibu. Cepat atau lambat Ibu pasti tahu.

“Ilham tidak enak sama teman-teman di sekolah, Bu. Karena tidak bisa membagi lauk dengan mereka. Jadi, tadi sewaktu jam istirahat, Ilham sembunyi di toilet lalu ke musala.”

Mendengar alasanku, ibu dan ayah tertawa. Bukannya kecewa atau sedih. Tidak seperti yang aku takutkan. Mereka bisa memahami alasanku.

“Ayah kira ada apa, Nak. Ternyata masalah bekal nasi goreng, tho?” sahut Ayah yang masih tertawa. “Tidak apa-apa, Nak. Bilang saja ke temanmu, kamu punyanya nasi goreng. Jadi kalau tidak bisa berbagi lauk, ya mohon dimaklumi. Yang penting jangan sampai kamu mencela makanan jika kamu merasa tidak suka. Itu tidak baik. Sikap kamu sudah benar. Dengan sembunyi di toilet dan tidak mencela makanan.” Ayah masih tertawa seolah kami tidak pernah ada masalah.

Hari ini aku merasa lega. Apa yang aku knawatirkan tidak benar-benar terjadi. Ibu memaafkan aku, dan memintaku memakan masakan yang baru selesai dia masak. Ayah tadi pulang cepat membawakan ikan untuk dimasak. Alhamdulillah. Perutku sudah keroncongan belum makan siang. Sudah dulu ya? Mau makan ikan masakan Ibu nih.

 

Ditulis oleh: Seno NS

Reviewer: Ghozy

One thought on “Bekal Nasi Goreng Buatan Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *