Bedah Buku, atau Pulang?

 
Acara bedah buku di Gramedia. 

“Mbak, ini bedah buku jadinya besok tanggal 8 September, bisa kan?”

Aku diam sejenak. Haruskah aku jawab segera pesan dari  Pak Dwi, atau menunggu lobi dengan suami. Lobi? Iya. Kemarin sore, aku baru saja bicara dengan suami. Kata beliau, kami akan pulang ke Madura tanggal 7 September. Persis satu hari sebelum bedah buku baruku, dan tiga teman lain. Aku yang ada di Yogyakarta, tempat bedah buku, akan mewakili tiga teman lain. Rencananya. Dan tanggal itu, sudah diajukan, dari rencana sebelumnya.
 
Mata ini menatap deretan koper hitam, dan merah. Masih teronggok di samping kanan meja ketik. Bergantian, aku melihatnya, kemudian melihat ke layar laptop lagi. Sesekali, aku masih menoleh ke kanan. Di atas koper itu, baju-bajuku dan suami bergelantungan. Baju seragam mengajarnya, baju sekolah anak sulung kami. Bajuku saat mengisi sesi bersama anak-anak panti asuhan.
Benar kah aku sudah kokoh akan meninggalkan semua aktivitas dengan baju-baju itu, suami, dan anak-anakku juga? Dan waktunya tinggal beberapa hari. Kemudian pikiran ini melayang ke timur. Ke rumah Ibu. di sana Ibu sedang sendiri. Ah! kenapa sih selalu ada kerumitan dalam pikiran ini? Jika kemarin aku sangat yakin, kenapa sekarang harus memble?
Jika aku sudah pulang, aku mengecewakan Pak Dwi. Beliau adalah guru menulisku. Tawaran bedah buku biasanya diimpikan banyak penulis. Apalagi itu pemula, sepertiku. Jujur, bukan karena itu yang menjadi kebimbangan. Aku lebih ke ‘mengecewakan guru’ lah yang seharusnya tidak. Setahuku, adab kita sebagai penuntut ilmu adalah menghormati guru. Apa, dan bagaimana pun keadaannya, menghormati guru adalah adab tertinggi di dalam kelas seorang yang belajar.
Tapi jika aku bilang pada suami, minta mundur sehari, entah apa jawabnya. Kami sudah mundur beberapa hari. Dari alasan menyiapkan anak-anak panti asuhan agar tertata, sampai suami yang membereskan urusannya sebagai guru. Teringat satu riwayat, jika kita sudah punya tekad kuat untuk hijrah, maka setan akan menggoda dengan cara menangguhkannya. Demikian juga niat baik, bukan pelaksanaan lagi yang dibatalkan, tapi godaan penundaan. Apa, kami sudah tergoda?
Jujur. Aku pun mengatakan apa adanya pada Pak Dwi.
“Iya. Enggak apa-apa, Mbak. Nanti bisa dengan Mbak Irfa, dan penulis lain.”
Nama yang beliau sebut, adalah nama penulis lain, yang bukunya juga terbit di Genta Hidayah. Satu penerbit dengan kami. Meskipun aku hanya membaca kalimat melalui chat WA, tapi, kalimat itu penuh dengan kelegowoan. Jika dalam bahasa yang lebih mudah, itu berarti rela, dan menuju kepada ikhlas. Justru aku lah yang belum ikhlas. 
“Tidak ada murid yang ingin mengecewakan gurunya.”
Itu satu di antara kalimat yang kususun sedemikian rupa, sebagai alasan. 
Di hati, ini semacam penolakan akan sesi sakral. Di mana satu pihak sangat kecewa, namun meredamnya dengan bahasa ikhlas, dan pihak lain tak bisa berbuat banyak. Selain pasrah.
*** 
 
“Kak, jadi, kita pulang tanggal 7, ya?” tanyaku pelan.
Kalimat itu kujadikan pembuka obrolan sebelum tidur. 
“Iya.”
“Bareng?”
“Iya. Atau bisa juga njenengan sama anak-anak di rumah Dik Sahlul dulu. Sebelumnya. Biar saya pakai mobil bawa barang-barang.”
Banyak yang kaget, saat tahu suami memanggil aku dengan ‘njenengan’. Bukan sampeyan, apalagi kamu. Pernah, satu teman mengatakan, “Itu terlalu jauh jaraknya. Seperti tidak ada kedekatan.” Tapi, begini lah nyatanya. Kami tetap dekat, meski suami memilih memakai diksi ‘njenengan’ sebagai ganti kamu. Katanya, kamu itu kasar, sampeyan itu … kurang menghormati. Walaupun janggal, aku terima itu sebagai penghormatan, dan satu bentuk kehalusan budi. 
Terbayang, kalimat-kalimat obrolan dengan Pak Dwi, sebelumnya. Rencana bedah buku itu sudah bocor sejak acara Temu Penulis Yogyakarta yang pertama. Ingin rasa untuk bicarakan hal itu, pada suami, saat ini. Tapi, entah kenapa, aku merasa bukan waktu yang tepat. Suami sedang lelah, dan butuh istirahat. Bukan saat yang pas untuk minta sesuatu. Termasuk izin ikut bedah buku. 
Setelah beliau terlelap, aku turun dari tempat tidur. Begini lah bila aku ingin membaca, atau menulis, tanpa membuatnya menunggu. Setidaknya, aku hanya butuh menunda kantuk beberapa saat, ketika semua orang terlelap. 
Diam-diam, aku mengetik curhatan pada dua teman yang ada di satu grup, melalui whatsapp.
“Wah, kalau aku, sudah pasti minta kelonggaran pada suami. Ini kan acara bukan untuk kesenangan. Tapi, tugas,” kata seorang dari mereka.
“Nek suamiku jelas gak bisa. Sudah A, ya, A,” sahut teman satunya.
“Iya. Suami mu mah over protective!” Teman yang pertama menimpali.
Kenapa sih, mereka berdua yang ribut? Ini kan aku yang sedang minta pendapat. 
 
Dari sana, aku makin tahu, apa yang aku tanyakan, jawabannya tetap sama. Belum berani bilang pada suami. Baik. Aku coba ikhlas. Coba? Ya.
*** 
Rabu, dua hari sebelum bedah buku. Aku sudah mulai ikhlas, tidak apa batal bedah buku. Mungkin, ini juga yang terbaik. Seringkali, yang terbaik menurut Allah, belum kita anggap baik. Inilah pelajaran ikhlas. Tapi, tak ada salahnya jika aku bicara sekarang. Suami sedang happy, sudah makan, dan santai. 
“Kak, sebenarnya, besok Jumat ada bedah buku. Tapi, kita sudah pulang, ya?” 
“Lho. Njenengan bisa tidur di rumah Sahlul dulu. Aku biar pulang anter barang-barang. Terus, balik lagi ke Jogja. Nanti, kita berangkat bareng. Aku naik motor, njenengan sama anak-anak naik kereta.”
Hah?
Jadi, setelah hati ini rela, tidak bernafsu untuk ikut bedah buku, ternyata suami sangat mendukung? Allohu akbar. Setetes bulir bening kubiarkan turun dari ujung mata. Alhamdulillah []  PC, LS, 29.09.2017

Ditulis oleh Kayla Mubara: seorang ibu yang menyukai pelangi, embun, dan harapan. Menulis tanpa batas genre, namun membatasi diri dengan kendali religi.

7 thoughts on “Bedah Buku, atau Pulang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *