Ayahku Chef yang Hebat

Sumber gambar: freepik.com

 

Nadya merengek lagi. Ini hari kedua ia tak mau ke sekolah. Bu Leli, ibunya sudah membujuk Nadya untuk bercerita. Namun Nadya tetap bungkam. Bu Leli menjadi cemas kalau-kalau anak tunggalnya ternyata sakit. Tetapi Nadya bilang ia baik-baik saja. Ia hanya sedang malas dan tak mau datang ke sekolah. Bu Leli tak percaya begitu saja. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Nadya.
“Nad, ulang tahun nanti mau hadiah apa?” tanya Bu Leli pagi itu. Tangannya sibuk menyisir dan mengikat rambut Nadya.
“Atau, tidak perlu beli hadiah saja? Uangnya kita belikan sesuatu untuk teman-teman di panti, gimana?”
“Tapi Ibu sama Ayah sudah janji, Nadya mau dibelikan sepeda,” rengek Nadya.
“Ya, itu kalau Nadya pintar dan naik kelas.” Bu Leli menyelesaikan ikatan rambut Nadya.
“Ayah dan Ibu merasa percuma membelikan sepeda. Sekarang, Nadya malas ke sekolah, gimana mau pintar?”
Nadya diam beberapa saat, merenungkan kata-kata ibunya. Untuk menjadi pintar, siapa pun harus rajin belajar. Itu kata ayah dan ibunya. Ia pernah berjanji untuk selalu rajin ke sekolah dan tak akan mengecewakan mereka. Andai saja ibu tahu, pikir Nadya. Bukan karena Nadya tak ingin pintar, Bu. Ada hal lain yang ah, bagaimana mengatakannya?  
“Gimana, masih mau hadiah?” pancing Bu Ani dengan sabar.
“Iya, Bu. Mau sekali.”
“Kalau begitu, Nadya tahu apa yang harus dilakukan? Ingat, janji itu utang lho.”
Nadya membalikkan badan menghadap Bu Leli
“Bu … Nadya bukan malas ke sekolah,” katanya berusaha meyakinkan.
“Nadya hanya malu sama teman-teman.”
“Apa yang membuat Nadya malu?” tanya Bu Leli heran, sekaligus was-was. 
“Nadya mau menceritakannya sama Ibu? Siapa tahu Ibu bisa membantu.”
Melihat Nadya hanya diam, Bu Leli tersenyum. Sikap Bu Leli membuat Nadya merasa nyaman. Lalu dengan sangat perlahan, Nadya pun bercerita. Tiga hari yang lalu adalah awal ia duduk di kelas dua. Bu Ani, wali kelasnya meminta murid-murid untuk bercerita di depan kelas. Nadya menceritakan pekerjaan ayah yang juru masak di sebuah hotel. Namun, belum sempat ia menyelesaikan cerita, Lala, Ido, Maya dan Arun menertawakannya. Hal itu berlangsung hingga jam sekolah berakhir. Menurut mereka, memasak hanya pantas dilakukan oleh seorang perempuan.
“Nadya malu karena Ayah mengerjakan pekerjaan perempuan,” keluh Nadya di akhir cerita.
“Nadya tak seharuanya merasa malu,” ujar Bu Leli dengan lembut. 
“Menjadi chef atau juru masak itu pekerjaan mulia. Mungkin teman-teman Nadya belum tahu, di hotel-hotel mewah, restoran-restoran mahal dan bahkan di istana raja, banyak juru masak laki-laki. Jadi, Ayah tidak sendirian.”
Benarkah begitu?”
Tentu saja. Memasak adalah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, kesabaran dan tenaga ekstra. Selain itu, memasak tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Hanya yang memiliki kepekaan rasa, kepekaan seni serta hati yang baiklah yang bisa menghasilkan masakan yang layak dinikmati.”
“Tapi kenapa Ayah melakukannya?”
“Karena Ayah termasuk orang yang hebat,” jelas Bu Leli lagi. 
“Bagaimana tidak hebat, Ayah bisa membuat masakan untuk orang banyak. Ayah membuat banyak orang bahagia setiap hari.”
***
Hari ulang tahun Nadya tiba. Sesuai janji, mereka merayakannya secara sederhana di sebuah panti. Teman-teman sekelas Nadya turut diundang. Setelah berdoa bersama, diakhiri dengan makan-makan
“Semoga kalian suka makanannya,” sapa Nadya pada Lala dan teman-temannya.
“Makanannya enak semua,” puji Ido dengan mulut yang penuh.
“Seperti di restoran saja.”
“Wah, kalau saja Mama bisa bikin masakan begini,” gumam Arun.
“Makanan ini beda dari yang lain,” ujar Maya tak mau kalah.
“Besok, kalau ulang tahun, aku mau minta Mama pesan makanan ini di restoran.”
Nadya pun tersenyum bahagia. 
“Ini bukan pesanan dari restoran lho,” terangnya.
“Lalu dari mana?” tanya Arun dan Maya bersamaan.
“Ayah yang membuatnya,” sahut Nadya bangga. Dipandanginya ayah dan ibunya yang sedang bercengkrama di terasi. 
“Ayah membuatnya dengan rasa cinta, jadilah semua makanan ini istimewa.”
“Jadi ….” Lala memandangi Nadya agak lama.
“Iya, inilah hasil pekerjaan Ayah yang luar biasa,” tutur Nadya lagi dengan mata berbinar.
“Ayah selalu membuat orang bahagia dengan makanan buatannya. Kalian juga bahagia, kan?”
“Ayahmu memang hebat,” sela Maya.
“Kata Ibu, nggak ada pekerjaan yang dikhususkan untuk perempuan atau laki-laki,” sambung Nadya, 
“Selama pekerjaan itu memberikan manfaat bagi sesama, siapa pun bisa melakukannya.”
Lala, Maya, Ido dan Arun mengangguk paham. Mereka telah salah menilai pekerjaan seseorang. Mereka menyesal, lantas mengucapkan maaf. Nadya sangat bahagia. Ia tak malu lagi dengan pekerjaan ayahnya. Ia mengajak teman-temannya untuk menambah makanan lagi. Semua senang. Tak seorang pun ingin menyia-nyiakan makanan yang super enak itu. 
***

 

Ditulis Oleh: Redy Kuswanto.

7 thoughts on “Ayahku Chef yang Hebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *