Apalah Arti Sebuah Nama

Belakangan ini, banyak sekali berita-berita di televisi atau media online yang mengangkat tentang keunikan nama seseorang. Saya tidak tahu mana yang lebih dulu: nama-nama orang yang unik dan media baru saja menemukannya atau karena diangkatnya nama seseorang menjadi bahan berita, orang-orang jadi berlomba memberikan nama yang tidak biasa kepada anaknya. Tapi, mungkin nanti setelah semakin banyak muncul nama-nama unik, nama nyeleneh akan menjadi hal biasa dan habis diberitakan. Sudah mainstream.

Kalau diingat-ingat, fenomena nama unik ini sudah mengumpulkan banyak orang. Mulai dari nama yang terkesan ekstrem, seperti Tuhan, Saiton dan Nabi. Sampai nama yang hanya dibuat dari satu huruf saja. Keuntungan yang jelas didapatkan ya, mungkin, orang lain dengan mudah mengingat nama dan rupa mereka karena uniknya nama yang dipunya. Satu lagi, untuk Mbak D, U atau nama satu huruf lain, jelas akan bisa mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk melingkari kolom nama di lembar jawab komputer. Sekali arsir, langsung beres!

Perkara memberikan nama kepada anak, terkadang jadi hal yang gampang-gampang susah. Orang tua selalu punya pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk memberikan nama, tentu yang jadi alasan kuat memilih nama adalah belum dipakai orang lain. Kalau sama, biasanya hanya kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan. Bisa juga disamakan dengan idolanya, nama orang lain yang dianggap bagus karena orang tua menyelipkan doa yang baik. Berharap supaya si bayi tumbuh sebaik, secantik atau seberuntung seseorang yang diidolakan.

Selain nama yang belum digunakan atau alasan menyelipkan doa untuk si anak, nama juga biasanya digunakan untuk menandai sebuah peristiwa berkesan. Si anak lahir di masa tertentu, hari tertentu, bulan tertentu atau dalam peringatan tertentu. Maka tidak jarang seseorang memiliki nama dari nama bulan, nama hari besar seperti Ramadhan, Proklamasi atau yang lain. Saya punya seorang kawan bernama Nensi, akronim dari Senin Siang. Karena Nensi memang lahir di siang hari Senin. Jadi, fenomena nama unik ini sepertinya mematahkan ungkapan yang berbunyi ‘Apalah arti sebuah nama.’ karena nama sebetulnya memang mempunyai makna khusus. Juga tidak sembarangan diberikan.

Ada satu nama yang sempat viral karena diberikan sebuah nama untuk mengingat peristiwa penting yang dialami orangtuanya. Pintu Pemberitahuan. Ya, Mas Pintu ini warga Bantul. Nama Pintu Pemberitahuan diberikan oleh orangtuanya dari judul lukisan sang Ayah. Katanya, di masa krisis moneter tahun 90-an, lukisan orangtua Mas Pintu, laku dibeli orang dengan harga yang tidak murah. Lukisan ‘Pintu Pemberitahuan’ menjadi lukisan pertama yang laku kemudian disusul lukisan-lukisan lain. Oleh karena lukisan tersebut dianggap membawa keberuntungan, dijadikanlah judul lukisan sebagai nama untuk anak laki-lakinya.

Saya pernah melihat Mas Pintu di salah satu stasiun televisi swasta, beliau diliput sebuah acara berita karena keunikan namanya. Dalam wawancaranya bersama seorang wartawan, Pintu Pemberitahuan bercerita tentang beberapa macam reaksi orang ketika mendengar namanya. Salah satunya, ketika ia ditilang polisi dan harus menghadiri sidang. Katanya, saat polisi membacakan satu per satu nama untuk dipanggil dalam persidangan, namanya dipanggil paling keras. Sampai dia mendengar bisik-bisik ibu-ibu di sekitarnya. Semua orang yang cenderung mempertanyakan mengapa orangtuanya memberi nama demikian.

Nama unik lain, ternyata bisa menjadi rezeki bagi si pemilik. Seseorang bernama Polisi, kemudian mendapatkan SIM gratis dari Polsek Pasuruan. Pria yang awalnya ditilang karena tidak memiliki SIM ini juga kabarnya mendapatkan pekerjaan di Mapolres Pasuruan. Kepolisian setempat menganggap bahwa Mas Polisi ini sebetulnya taat hukum, ia berkendara lengkap dengan helm. Sayangnya, ia tidak memiliki biaya untuk membuat SIM. Sebelumnya, Mas Polisi ini sering merasa malu dengan namanya. Ia mengaku sempat mendapatkan kesulitan dalam pergaulan. Banyak teman yang mengejek dan menertawakan namanya.

Berbicara soal nama, dalam masyarakat Jawa ada mitos tentang kabotan jeneng atau dalam bahasa Indonesia diartikan dengan keberatan nama. Tapi, selanjutnya akan saya sebut sebagai kabotan jeneng saja ya, lebih enak dan tidak mengaburkan konteks. Memang ada beberapa kata dan frasa dalam bahasa Jawa yang sulit untuk dialihbahasakan. Kabotan jeneng ini membuat seseorang harus merubah namanya, bahkan beberapa kali. Kalau tidak diganti atau belum menemukan nama yang tepat, biasanya si pemilik nama jadi sakit-sakitan.

Entah apa sebetulnya korelasi nama dengan kesehatan, tapi banyak masyarakat Jawa yang percaya dengan fenomena ini. Anehnya, nama yang disebut berat itu biasanya artinya bagus. Ada doa yang luar biasa baik disematkan di dalam namanya. Kemudian kalau sudah sakit dan berganti berkali-kali, biasanya akan sembuh ketika namanya diganti dengan nama yang sangat singkat. Meskipun kabotan jeneng ini bukan karena panjangnya nama, melainkan karena artinya yang terlalu bagus sehingga anak tidak kuat menyandangnya.

Terlepas dari itu semua, nama adalah hak. Satu dari sekian hak-hak yang harus diberikan di awal hidupnya. Dalam Islam pun disebutkan bahwa diberi nama adalah salah satu hak, selain diaqiqah-kan, dicukur rambutnya dan hak pendidikan. Sayangnya, anak tidak punya kemampuan untuk menyetujui atau menolak nama yang akan diberikan. Itu penuh keputusan orang tua.

Memang, kita semua mempunyai keinginan untuk berbeda atau terlihat menonjol tapi persoalan nama seharusnya perlu pertimbangan lain. Nama bukan hanya memiliki fungsi untuk menjadi sebuah panggilan, nama adalah identitas diri. Nantinya, nama juga akan dicantumkan di berbagai dokumen sebagai penanda bagaimana kita dikenal dalam pencatatan sipil atau keperluan lain.

Kalau saya jadi orangtua, sepertinya tidak akan memilih untuk memberikan nama yang nyeleneh. Padahal bisa saja saya beri nama Aurelia aurita, kelihatan bagus dan cantik tapi ternyata itu adalah nama latin dari salah satu spesies ubur-ubur laut. Meskipun saya yakin, tidak semua orang tahu soal itu. Tapi kayaknya saya mau cari aman saja, takut nanti anak saya dibully karena namanya atau cucu saya dibully karena nama orangtuanya cukup unik. Eh tapi, lucu juga ya Aurelia aurita?

Ditulis oleh: Hapsari Titi Mumpuni

Reviewer: Jack Sulistya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *