Apakah Harus Menunggu Kesenian Kita Direbut?

Indonesia negara yang kaya, begitu katanya. Bahkan, banyak yang telah hafal dengan berapa panjang garis pantai, berapa jumlah pulau di wilayah Indonesia dan beragam sumber daya yang bisa dimanfaatkan hingga diekspor ke negara lain. Tidak hanya itu, jumlah penduduk yang terbilang mencapai 262 juta jiwa juga menjadi salah satu sumber kekayaan Indonesia.1 Dengan banyaknya jumlah manusia dan pulau-pulau yang ditempatinya, Indonesia memiliki 250 suku bangsa meskipun mayoritas merupakan suku Jawa.2 Masyarakat yang beragam inilah yang membangun kekayaan budaya Indonesia.

Budaya diartikan sebagai sesuatu hasil pemikiran dan akal budi. Bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah.3 Sedangkan menurut Koentjaningrat, budaya didefinisikan sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa dan kebudayaan adalah hasil dari cipta rasa dan karsa itu sendiri.4 Produk dari budaya manusia amat beragam, bentuknya bisa berupa ide atau gagasan, nilai atau pandangan hidup, norma, peraturan dan sejenisnya serta bisa berupa benda hasil karya manusia. Bisa juga berbentuk aktivitas berpola dalam suatu masyarakat.

Pengertian kebudayaan yang banyak dikemukakan ahli dan masih cukup luas ini, kemudian dikelompokkan oleh Arifninetrirosa (2005) dalam 3 dimensi perwujudan: 1). Kompleks wujud sebagai gagasan, pikiran manusia untuk suatu kebutuhan, 2). Kompleks wujud sebagai aktivitas manusia dan 3). Kompleks wujud sebagai benda-benda. Sedangkan jika meninjau dari isinya, kebudayaan memiliki tujuh unsur yang salah satu diantaranya merupakan kesenian.5

Dari salah satu unsur kebudayaan saja, kita bisa melihat bahwa ada beragam bentuk kesenian yang mewarnai negeri yang kaya suku ini. Ada tari, nyanyian-nyanyian, alat musik hingga permainan tradisional. Kalau kita bicara di wilayah yang lebih sempit, misal di Jawa saja, semua bentuk kesenian tradisional bisa kita jumpai dari mulai tari-tarian, tembang, dan alat musik. Namun demikian, kalau kita amati sekarang ini, rasanya sudah jarang sekali kita jumpai pertunjukan-pertunjukan seni tradisional.

Jika kita perhatikan lebih jauh lagi, remaja masa kini tidak sedikit yang lebih mengagungkan budaya negara lain. Sebut saja, K-Pop atau Musik Korea Populer. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Amalia Izzati (2013), disebutkan bahwa K-Pop sangat cepat berkembang dan diterima di negeri ini karena beberapa faktor. Internet, tentu menjadi jalan utama dan pertama yang membuat budaya ini masuk ke Indonesia. Kemudahan akses untuk melihat para idola negeri ginseng membawakan lagu dan menari membuat generasi muda terlena dan semakin dekat dengan tontonan semacam ini. Selain itu, faktor wajah Korea yang dinilai sebagai kecantikan atau ketampanan proporsional serta cara berpakaian yang fashionable membuat remaja semakin jatuh cinta pada budaya K-Pop.6

Tentulah, hal semacam itu bisa mengakibatkan kita yang muda menganggap bahwa kesenian tradisional adalah hal kuno dan jauh dari kata fashionable atau tidak menampilkan wajah-wajah ideal. Kita bandingkan saja dengan menonton pertunjukan wayang, misalnya. Satu, kita mungkin bosan dengan menatap kain putih dan bayangan karakter wayang semalam suntuk. Melawan rasa kantuk. Belum juga ceritanya dibawakan dengan bahasa Jawa yang mungkin generasi saat ini hampir tidak bisa memahaminya. Sudah makin ngantuk saja rasanya ya?

Apakah memang sebetulnya perlu adanya inovasi yang dilakukan untuk menarik perhatian generasi masa kini? Perlukah wayang dibuat dengan konsep berbeda dengan menghadirkan karakter yang berwajah rupawan bak idola-idola Korea? Nyatanya, mereka yang muda lebih mudah mengingat ciri-ciri personel boyband dibandingkan dengan bagaimana membedakan si Semar, Gareng, Petruk maupun Bagong. Tetapi, jika inovasi itu dilakukan apakah nilai tradisional dari wayang menjadi hilang? Saya pikir, ini sangat dilematis.

Kita berjalan sebentar ke wilayah yang lebih sempit, melihat kesenian di wilayah kota Semarang. Pada tahun 2011 pernah dilakukan penelitian mengenai faktor yang memengaruhi lunturnya kesenian tradisional Semarang. Diantara faktor yang menghambat pertumbuhan kesenian tradisional di kota Semarang, seperti lagu Gambang Semarang, kasidah, wayang orang dan wayang potehi, adalah lemahnya regenerasi yang terjadi dalam berlangsungnya kesenian tersebut.7 Maka artinya, kembali lagi ke sikap generasi muda sebagai penerus.

Yang justru sekarang ini kita lihat, cenderung banyak orang asing yang lebih semangat mengenal kesenian tradisional Indonesia. Tak sedikit dari mereka kemudian mempelajari dan jatuh cinta pada kesenian tradisional Indonesia. Beberapa diantaranya adalah angklung, gamelan, musik keroncong dan tari-tarian. Kesenian tersebut berhasil membuat banyak bule merasa ingin mempelajarinya.

Sebagai contoh pria bernama Alexander Fueller dan Regulla Sutter. Dua orang warga Austria yang justru mahir memainkan dua alat music tradisional Jawa, yaitu bonang dan slethem. Bagi mereka—yang kini turut menjadi pemain tetap dalam grup gamelan Ngesthi Budoyo KBRI Wina—ada kenikmatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata ketika memainkan gamelan.

Tak hanya itu, di Austria juga terdapat grup bernama Gamelan Bali Altenberg, sebuah perkumpulan pecinta grup gamelan Bali yang terdiri dari 12 orang dan rutin manggung di kafe sekitar Wina, Austria. Satu lagi yang tidak kalah mengejutkan, seorang wanita bernama Jana Vozabova justru lihai menarikan tarian Bali. Jana—begitu ia dipanggil, juga mendirikan sebuah institusi yang mempromosikan budaya Indonesia lewat tarian dan seni pertunjukan yang sering digelar di Praha, Rebuplik Ceko.8

Melihat fenomena bule yang jatuh cinta pada budaya dan seni negara kita sementara kita—warga negara asli—justru sibuk mengagumi budaya negara lain rasanya memang aneh. Kita lupa jika ada ancaman-ancaman yang sungguh terus menghantui kesenian negeri ini. Kita bahkan sering menjumpai kesenian kita pernah diakui negara lain—tetangga serumpun—Malaysia. Dimulai dari lagu Rasa Sayange, Batik hingga terakhir sempat heboh tentang Kuda Lumping beberapa waktu lalu. Finalis Miss Grand International asal Malaysia, ketika itu mengenakan kostum yang dilengkapi dengan aksesori kuda Lumping.

Peristiwa kostum Kuda Lumping finalis Miss Grand Malaysia ini heboh di dunia maya. Banyak warganet Indonesia yang kemudian merasa perlu marah-marah dan menyalahkan kontestan asal Malaysia. Seperti biasa, warganet menyebut-nyebut Malaysia sebagai malingsia karena dianggap tidak berhenti mencuri kebudayaan Indonesia, khususnya kesenian tradisional. Meskipun pihak Miss Grand Malaysia selanjutnya memberikan penjelasan bahwa kostum Kuda Lumping yang dikenakan hanya sebuah simbol persatuan dan keberagaman budaya untuk masyarakat Johor. Mereka mengakui bahwa kesenian itu terinspirasi dari masyarakat Jawa yang tinggal di wilayah Selatan Johor dan Kementrian Pariwisata Malaysia mengakui tarian Kuda Lumping memang milik masyarakat Jawa. Namun, tetap saja warganet tidak habis marah-marah di sosial media.9

Jauh sebelum ini, pada 2007 lalu kita dihebohkan juga atas kabar dicurinya Reog Ponorogo. Masih juga melibatkan negara sebelah. Ketika itu, Reog Ponorogo ditampilkan dalam sebuah video kampanye Visit Malaysia 2007 dan kampanye bertajuk Malaysia Truly Asia. Saat media-media Indonesia ramai menyiarkan pemberitaan ini, reaksi warga Indonesia hampir serupa dengan kasus Kuda Lumping tadi, marah dan tidak ketinggalan menjelekkan Malaysia. Ketika itu, media sosial memang belum se-booming saat ini hingga tidak sedikit masyarakat—terutama mahasiswa, generasi muda—memilih berunjuk rasa. Aksi ini bahkan dilakukan di Kedubes Malaysia di Jakarta dengan dihadiri kurang lebih 1.000. Akhirnya kasus ini memang selesai dengan pengakuan Malaysia bahwa mereka tidak mengklaim Reog Ponorogo sebagai kesenian negaranya.10 Tetapi, ada satu hal yang menjadi perhatian bagi saya: reaksi para generasi muda.

Rasanya lucu, ketika keinginan untuk mempelajari budaya dan kesenian milik sendiri mulai meluntur tetapi berteriak keras dan memaki mereka yang dianggap mencuri. Katanya, itu bukti kecintaan. Lalu, apakah menjaga dan melestarikan kesenian bukan upaya menumbuhkan rasa cinta? Apakah rasa cinta hanya bisa ditunjukkan dengan kemarahan ketika yang dipunyai dirasa akan ‘direbut’ saja? []

Ditulis oleh: Hapsari Titi Mumpuni

Reviewer: Jack Sulistya

Referensi:

  1. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/01/12/berapa-jumlah-penduduk-indonesia
  2. http://publikasi.data.kemdikbud.go.id/uploadDir/isi_F9B76ECA-FD28-4D62-BCAE-E89FEB2D2EDB_.pdf
  3. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/budaya
  4. Koentjaraningrat, 1974. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
  5. Arifninetrosa, 2005. Pemeliharaan Kehidupan Budaya Kesenian Tradisional dalam Pembangunan Nasional. E-Jurnal Universitas Sumatera Utara (USU).
  6. Izzati, Amalia, 2013. Analisis Pengaruh Musik Korea Popuker Terhadap Gaya Hidup di Kalangan Remaja. Artikel Jurnal Universitas Indonesia.
  7. Jamil, M. Mukhsin, dkk., 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lunturnya Kesenian Tradisional Semarang (Studi Eksplorasi Kesenian Tradisional Semarang). Jurnal Riptek Vol. 5 No. II; Hal 41-51.
  8. https://news.detik.com/berita/1060096/bule-bule-pecinta-budaya-indonesia
  9. https://wolipop.detik.com/read/2017/10/01/075810/3665467/1137/heboh-miss-grand-international-malaysia-jadi-kuda-lumping-ini-penjelasannya
  10. Lisa, Clare Mapson., 2010. Kesenian, Identitas dan Hak Cipta: Kasus “Pencurian Reog Ponorogo. E-Journal UMM Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *