ALQAMAH, IBU DAN ISTRINYA

Alqamah sedang mengalami sakaratul maut yang dahsyat. Kematian tak kunjung mengakhiri hidupnya, seolah ingin mengulur-ngulur waktu untuk menyiksa tubuhnya. Di samping tubuhnya yang kejang-kejang, tampak sang istri menangis tersedu-sedu. “Sudah tiga hari suamiku merasakan penderitaan sakaratulmaut ini,” ucapnya sambil terus menyeka air matanya.

Sanak saudara, tetangga, sahabat berdatangan menjenguk Alqamah. Terlihat salah seorang terus menerus membimbingnya mengucapkan syahadat, “Asyhadu alla ilaha illallah…”

“Asyhadu a a a … . Ibuu…” lidah Alqamah kelu dan kaku. Tak mampu ia melanjutkan syahadatnya. Sesekali ia merintih memanggil-manggil nama ibunya.

“Astaghfirullah… apa yang sebenarnya terjadi pada diri Alqamah?” Orang-orang saling tatap tanpa bisa menjawab.

“Apakah engkau sudah menyampaikan ini kepada Rasulullah?” Tanya salah seorang kepada istri Alqamah yang disambut dengan gelengan kepala.

“Ada baiknya kita kabarkan kepada Rasulullah.” Berangkatlah beberapa sahabat ke kediaman Rasulullah.

“Apakah ibunya masih hidup?” Tanya Rasulullah setelah mendengarkan cerita Alqamah.

“Masih ya Rasulallah, tapi ibunya belum menjenguknya.”

Rasulullah kemudian meminta agar ibu Alqamah didatangkan.

Berangkatlah mereka menjemput ibu Alqamah.

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatu.” Salam sang utusan sambil mengetuk pintu rumah Ibu Alqamah.

“Waalaikumussalam warahmatullah..” terdengar suara wanita paruh baya dari dalam rumah.

“Wahai ibu, putramu Alqamah sedang sakit. Aku datang kesini untuk menjemputmu.” Tanpa basa basi utusan Rasulullah mengutarakan maksudnya.

“Tidak … . Aku tidak sudi datang ke rumah Alqamah. Ia bukan putraku lagi.”

“Aaastaghfirullah … tapi keadaannya sangat menyedihkan. Ia sedang sekarat. Apakah Ibu tidak kasihan?”

“Aku tidak peduli, sebagaimana ia pernah tidak peduli kepadaku.” Balas ibu Alqamah dengan suara yang lebih tinggi.

“Bagaimana jika ia meninggal?”

“Biarkan saja ia meninggal dan menderita selamanya.”

“Astaghfirullah … . Mungkin ini terakhir kali Ibu akan melihatnya.”

“Ahhh, aku tidak peduli,” ucap ibu Alqamah sambil memalingkan badan. Tampaknya, ia benar-benar murka dengan putranya.

“Saya ke sini atas permintaan Rasulullah. Beliau ingin bertemu denganmu.”

Mendengar nama Rasulullah disebut, ibu Alqamah tampak terkejut. “Benarkah? mengapa engkau tidak bilang sejak awal?”

“Kemarahanmu pada Alqamah telah menghalangi kami  menyampaikannya kepadamu.”

“Baiklah, aku segera memenuhi panggilannya. Mari kita berangkat sekarang.”

“Ada apa ya, Rasulallah?” tanya sang ibu kepada nabi setibanya di tempat.

“Mengapa engkau sangat membenci Alqamah?” Tanya Rasulullah.

“Anak itu telah menyakiti hatiku ya Rasulullah. Aku tidak bisa memaafkannya,” jawab Ibu Alqamah sambil berkaca-kaca.

“Apa yang telah ia lakukan? Bukankah ia anak yang baik?”

“Sebenarnya Alqamah sayang dengan orangtuanya, namun itu semua berubah saat sudah menikah.” Mulai ia bercerita hubungannya dengan putranya. Lalu ia melanjutkan, “Ia terlalu memperhatikan istrinya, sementara aku ibunya diabaikan begitu saja. Pernah suatu hari, ia datang ke rumah membawa hadiah baju. Sangat indah, sehingga aku sangat bahagia saat mencobanya. Namun, ternyata itu bukan untuk aku. Itu untuk istrinya. Sementara untuk aku, ibunya, ia menyiapkan baju yang lebih rendah kualitasnya.”

“Masih ada lagi. Ketika aku berkunjung ke rumahnya. Aku datang dalam kondisi lapar, lalu aku melihat ada makanan di atas meja makan. Saat tanganku hendak mengambilnya, dengan tegas ia mencegahku dan mengatakan bahwa makanan ini pesanan dari istrinya. Dan ia menyuruhku  untuk menunggu sampai istrinya datang dari pasar.” Kisah sedih ibu Alqamah mengalir tanpa ada yang memotong.

“Terakhir, aku pernah mengirim utusan ke rumah Alqamah untuk mengabarkan bahwa aku tidak memiliki apa-apa lagi untuk dimakan. Tapi, apa jawabannya? Ia mengatakan bahwa uang yang dimilikinya hanya cukup untuk beberapa hari saja. Ia kuatir nanti istrinya marah.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah engkau masih marah dan tidak memaafkan Alqamah.”

“Tidak …, aku tidak sudi ke rumahnya lagi.”

Akhirnya, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar.

“Untuk siapa?” Tanya Ibu Alqamah.

“Untuk membakar tubuh anakmu. Agar ia merasakan siksa api dunia saja. Itu jauh lebih baik.”

Ibu Alqamah jatuh terduduk mendengar perintah Rasulullah. Terbayang di pelupuknya kenangan-kenangan masa lalu antara ia dengan anaknya.

“Ya Allah, aku telah memaafkan dan rida terhadap putraku Alqamah.”

Pemberian maaf sang ibu mengantarkan Alqamah menuju kematiannya.

Bagi laki-laki ibu adalah tempat pertama dan utama meletakkan baktinya. Bagi perempuan, setelah menikah, kepada suamilah ia harus mengutamakan bakti.*)

 

*Syahrul, penulis buku “Berdagang dengan Allah Nggak Ada Ruginya,”

provofakator GAM (Gerakan Ayah Menulis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *