Alhamdulillah Belum Jodoh

Ketika jodoh tak kunjung bersua, gelisah mulai melanda. Ya, orang bilang jodoh itu misteri. Kita tak pernah tahu siapa, kapan, di mana akan bertemu, hingga saat itu benar-benar tiba. Seperti sebuah pencarian tak berujung. Kadang sampai jatuh bangun, hingga berurai air mata. Sungguh, tak mudah menemukan tambatan hati.

Tak terasa, usia sudah melaju di kepala tiga. Setiap kali pula tanya menghampiri, kapan menikah? Satu pertanyaan keramat itu, selalu buat saya tertegun. Diam, lalu mencoba tetap tegar dan tersenyum, meski dalam hati rasanya seperti disayat sembilu. Usaha sudah tak terbilang. Do’a-do’a pun telah dilangitkan, namun belum tampak jua sang belahan jiwa.

“Mbak, mau ikut ta’aruf enggak di tempat Ustaz Awan?” tanya sahabatku, suatu hari.

Aku pernah dengar ta’aruf itu semacam proses perkenalan dengan tujuan menikah. Biasanya perantaranya ustaz atau ulama. Tapi, selama ini, aku memang belum pernah mencoba cara itu. Maklum, aku merasa diri ini masih belum jadi perempuan salihah. Dengan amal ibadah yang biasa-biasa saja, aku merasa tak pantas menempuh ta’aruf. Karena pernah aku membaca, ada yang mensyaratkan hafalan sekian juz, padahal juz 30 saja aku belum hafal semua.

“Kalau mau ikut ta’aruf itu gimana, sih?” tanyaku.

“Pertama, kita isi biodata dulu. Pokoknya data diri harus lengkap, lalu ditulis juga kriteria seperti apa yang kita inginkan untuk menjadi pasangan. Terus kasih foto juga. Nanti serahkan ke ustadz, dan tunggu sampai ada yang mau proses ta’aruf sama kita.”

“Memang kamu pernah ikut?”

“Pernah sih, Mbak, tapi belum ketemu yang cocok. Gimana, mau coba? Nanti aku antar ke rumah Ustaz Awan.”

Setelah merenung dan menimbang berbagai hal, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba ikut ta’aruf. Siapa tahu jalanku bertemu sang belahan jiwa memang melalui cara ini. Bismillah. Bersama sahabatku, aku menuju rumah Ustaz Awan. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Mbak Dewi, istri Ustaz Awan. Ternyata memang beliaulah yang mengurusi proses ta’aruf.

“Baik, insya Allah kami akan berusaha membantu. Silakan diisi biodatanya, ya. Usahakan selengkap mungkin, supaya mudah mencarikan yang sepadan. Tapi harap bersabar, ya, Mbak. Mayoritas yang memasukkan biodata itu akhwat, sedangkan ikhwan hanya sedikit. Jadi, perlu waktu untuk bisa berproses,” kata Mbak Dewi, setelah mendengar maksud kedatangan kami.

Setelah mengisi biodata dan ngobrol dengan mbak dewi tentang masalah perjodohan, kami pun pamit. Hari-hari setelah itu, doa-doa kembali kulangitkan. Semoga kali ini aku benar-benar menemukan penggenap separuh agamaku. Ada yang bilang, jika kita ingin mendapat jodoh yang baik, maka kita pun harus berusaha memperbaiki diri. Maka aku dan sahabatku sering ikut kajian Ustaz Awan dan Ustaz Adi, kembarannya, di sebuah masjid di jalan Kaliurang. Aku ingin menambah wawasan keislamanku, sekaligus berupaya memantaskan diri menjadi perempuan yang baik agar mendapat laki-laki yang baik. Bukankah demikian janji Allah Swt?

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, belum juga ada kabar kelanjutan ta’aruf. Hingga sahabatku akhirnya melangsungkan pernikahannya. Dia bertemu calon suami bukan dari proses ta’aruf, malah calonnya itu tetanggaku. Selama proses perkenalan itu, sahabatku sering curhat padaku tentang masalah-masalah yang dihadapi. Tentang ayahnya yang awalnya tidak setuju, karena sang calon yang bukan sarjana. Tentang kondisi kesehatan ibunya yang mengkhawatirkan. Tentang pergulatan batinnya menghadapi pernikahan.

Pada akhirnya mereka berhasil sampai ke pelaminan setelah melalui banyak rintangan. Mataku terbuka, ternyata menikah itu memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan ketika telah bertemu sang belahan jiwa, tetap ada perjuangan yang harus ditempuh untuk menggapai mahligai pernikahan.

“Assalamu’alaikum, Mbak, alhamdulillah, ada seorang ikhwan yang ingin berkenalan. Bisa datang ke rumah saya sore ini?”

Membaca pesan singkat dari Mbak Dewi siang itu, membuatku merasa gugup. Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, kabar itu datang juga. Aku berusaha menata hati. Rasa penasaran mulai memenuhi pikiran. Seperti apakah sosok ikhwan yang akan aku temui nanti? Aku segera menghubungi sahabatku dan memintanya untuk menemani dalam pertemuan nanti sore.

Pertemuan pun terjadi. Seorang laki-laki yang cukup tampan, dalam pandanganku. Terlihat sekali ia sangat menjaga pandangannya. Mbak Dewi memperkenalkan kami. Laki-laki itu bernama Hendri, berasal dari Gunungkidul. Mbak Dewi lalu memberikan biodata kami.

“Silakan biodata ditukar ya, lalu dipelajari dulu. Kalau ada yang mau ditanyakan, monggo. Ini baru pertemuan pertama, maksimal satu minggu lagi, jika sudah ada keputusan silakan menghubungi saya. Nanti kita atur langkah selanjutnya,” tutur Mbak Dewi.

Meskipun awalnya canggung, aku dan Mas Hendri sempat berbincang tentang beberapa hal. Sesekali Mbak Dewi ikut dalam percakapan kami. Mas Hendri seorang wirausahawan. Ia mempunyai sebuah toko kelontong di desanya. Ia anak bungsu, sedangkan kakak-kakaknya sudah menikah. Aku lalu menceritakan tentang aktivitas dan keluargaku.

“Kalau nanti ta’aruf berlanjut dan kita menikah, apakah Mbak Maya bersedia untuk tinggal di Gunungkidul?” tanya Mas Hendri.

“Insya Allah, saya siap jika harus mengikuti suami,” jawabku.

“Bagaimana dengan pekerjaan di sini?”

“Saya siap untuk mengundurkan diri, lalu akan mencari pekerjaan di sana, jika diizinkan.”

Pertemuan itu berakhir saat azan Maghrib berkumandang.  Sesampai di rumah, aku baca lagi biodata Mas Hendri. Dalam hati aku merasa mantap, mungkin inilah jodoh yang selama ini aku nantikan. Kami memang tidak boleh saling menghubungi. Semua urusan dalam  proses ta’aruf ini harus melalui Mbak Dewi sebagai perantara. Hingga seminggu kemudian, aku menerima pesan dari Mbak Dewi.

“Assalamu’alaikum, Mbak, alhamdulillah, Mas Hendri ternyata belum berjodoh dengan Mbak Maya. Beliau sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ini. Yang sabar ya, Mbak, insya Allah akan ada jodoh yang lebih baik untuk Mbak Maya. Mohon biodata Mas Hendri dikembalikan pada saya. Jazaakillahu khoyr.”

Sore itu, aku mengembalikan biodata Mas Hendri. Jangan tanya bagaimana rasa hatiku saat itu. Harapan yang baru saja bersemi harus layu sebelum berkembang. Kata Mbak Dewi, keluarga Mas Hendri menghendaki calon Mas Hendri berasal dari daerah yang sama. Aku tak bisa berbuat apapun selain pasrah. Setidaknya aku sudah berusaha, jika Allah belum berikan saat ini, pasti suatu hari nanti akan tiba saatnya. Hidup harus terus berlanjut.

 

Ditulis oleh: Maya Romayanti

Reviewer: Hapsari TM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *