Aku dan Kakek yang Tangguh

1//

Adalah aku, manusia yang amat beruntung daripada sebagian manusia yang terciduk terus meratapi diri akan ‘nasib’ dari petualangan kisah telah dijalani sekian lama namun masih begitu-begitu saja—padahal, menurutnya, apa saja telah diupayaperjuangkan sekuat tenaga yang dipunya. Keberuntungan paling pertama adalah penjelajahan wilayah yang terbilang jauh. Seperti deretan kata yang biasa digunakan dalam penyebutan Ninja Hatori, untuk melahirkanku yang berdasarkan akta kelahiran terpampang jelas tulisan ‘Muara Kelingi’, maka orangtuaku yang berasal dari Sragen-Pati kudu mendaki gunung melewati lembah. Jelas sudah, penjelajahan yang sedemikian ‘WAW’ membikin aku seolah-olah terlahir bakal menjadi seorang penjelajah.

Aku lahir dan besar di daerahergolong memprihatinkan—di salah satu petak tanah kecil yang ada di Sumatera Selatan—dan bagi pemerintah sudah selayaknya diberi perhatian lebih. Ya, daerah Terluar, Tertinggal, dan Terdepan (3T). Bila tak dilarang menyebut, maka rangkaian kalimat yang cukup tepat adalah aku berasal dari daerah pelosok, pedalaman, terisolir. Mendengar kata-kata itu, kita sudah bisa menduga bahwa mata pencaharian warga di daerah itu lebih banyak ke lahan perkebunan dan tentu penghasilan mereka tak begitu melimpah. Bahkan, menurut penuturan kebanyakan pejabat, warga, bahkan anak-anak di sana, diperoleh kesimpulan bahwa di sana banyak warga terbilang sangat perlu dicemaskan. Meski orangtuaku sudah memiliki penghasilan yang telah dipatok pemerintah setiap jangka waktu tertentu sebab pengabdiannya yang terhitung sekira 35 tahunan. Tetap saja, butuh sekian waktu untuk mengumpulkan rupiah guna menuju pulau Jawa, asal muasal kelahiran ibu-ayah.

2//

Adalah aku, lelaki yang terbilang pendiam ketika masih berusia belasan tahun, apalagi di usia sebelumnya. Pada sebuah pertemuan, akan terhitung tak begitu banyak kisah, kenangan, perjalanan hidup yang telah dilewati. Diam menyelimuti bibir untuk melepaskan takdir, bahwa jumpa sangatlah begitu singkat. Tiba-tiba saja, pertemuan telah menyata tiada. Berakhir sudah kisah.

Sungguh, pada kepulangan ke kampung halaman ibu-ayah, yang kuanggap terakhir ketika masih belajar di Sumatera, dan bila dihitung saat ini, maka sudah 18 tahun berlalu. Bila tahun 2000 aku terakhir kali bersama ayah-ibu menemui kerabat mereka yang tak begitu banyak. Bila sekarang usiaku belum sampai di angka usia Rasulullah ketika menikah, maka amatlah lama sekali aku tak melihat kampung—tempat tinggal orangtua ibu-ayah. Ya, benar, saat itu aku masih sangat kecil. Masih belum tahu apa-apa, di samping memang lumayan pendiam sehingga sudah dapat diduga bahwa tak banyak cerita yang lahir dari ocehan dan keriuhanku ketika masih berusia muda.

3//

Adalah aku, lelaki yang selama ini tak begitu banyak mendapatkan cerita perihal garis keturunan, misalnya kakek-nenek. Yang kuketahui bahwa keduanya telah meninggal jauh sebelum aku dilahirkan ibu pada tahun 1993.  O, kisah perihal kakek dari ibu dan kedua nenekku hingga sekarang aku tak begitu tahu. Aku hanya menemui makam manusia mereka yang berada di Sragen dan Pati. Makam itu pun baru aku ketahui secara ‘betul’ tak lama setelah ini. Kira-kira setahun yang lalu. Segala cerita tak begitu kutangkap, aku mulai kehilangan jejak orang-orang berhargaku.

4//

Adalah aku, lelaki yang berhati tak lembut atas segala-galanya. Termasuk hempasan dari sebuah kehilangan. Benar! Selain tak mendapati cerita utuh perihal kakek-nenek yang telah menghadap-Nya jauh hari sebelum kedatanganku di lebar bumi, aku juga tak begitu bergairah mencari perihal mereka. Aku hanya diam saja. Tak pernah membuka pembicaraan lebih tentang mereka. Kepastian cerita tentu mustahil kudapatkan dengan sengaja bila tiada minyak penyulut cerita dari orang yang mengetahuinya: ibu-ayah. Tiada keinginan pula menyalahkan kedua orangtuaku yang seolah tak hendak membuka tabir keluarga.

Selain aku, tentu keempat saudaraku juga belum begitu tahu perihal silsilah keluarga. Hanya satu yang kuketahui, kakek yang berasal dari ayah adalah seorang prajurit. Pasukan pembela tanah air yang gagah dan siap mempertaruhkan nyawa demi keutuhan bangsa, tanah air tercinta. Ketegasan sikap terus mengalir ke darah ayah, juga aku. Meski hanya sebagian sikap, yang tentu aku masih begitu plin-plan dan patut belajar sebagai keturunan prajurit.

5//

Adalah aku, setahun ini merasa begitu merindu sosok kakek-nenek. Setiap ada orang yang terbilang teramat tua, atau mendekati masa senja, aku terkadang menatapnya dengan lekat, mendekati sebisanya, lalu menanyai perihal kisah-kisahnya. Dari sosok orang itu—baik laki-laki maupun perempuan—aku merasakan keteduhan yang begitu dahsyat, kehangatan kasih sayang yang amat dirindukan, dan penghembusan petuah-petuah kebaikan untukku di masa yang akan datang.

Dari sebagian mereka, aku menemui kekuatan semangat berkehidupan yang begitu mengharukan. Mayoritas para orangtua itu lebih suka berkeluyuran, mengeluarkan keringat, dan memanfaatkan mata-tangan sendiri untuk melakukan apa saja guna mendapatkan beberapa lembar rupiah saja. Permintaan para anak untuk beristirahat di rumah, tinggal makan, dan menikmati apa saja yang ada di rumah, ditolak dengan halus dan bijaksana. Pernyataan: “Aku bergerak maka aku hidup, selebihnya bila ada yang meminta untuk menikmati masa senja, sama saja mengharapkanku untuk cepat berpulang.” Tentu, pernyataan demikian yang kudapatkan dari beberapa orangtua ditaksengaja perjumpaan itu begitu menggetarkan. Anggapan permintaan untuk tak melakukan apa-apa di masa tua sama saja keinginan agar mereka tak menggerakkan kaki tangan. Tak lagi melatih otot agar tetap berfungsi dengan baik, hingga pada prasangka mengharap meninggal lebih awal sebab tak melakoni aktivitas apapun.

Seminggu lalu, di malam yang cukup cerah, aku yang duduk di ruang publik di suatu kampung yang tak jauh dari daerah Krapyak. Di sana, datang pula seorang bapak tua ikut bergabung. Tanpa menunggu komando, bibirku segera saja menanyai usia, tempat tinggal, asal, dan aktivitas. Kakek berusia 75 tahun itu baru saja pindah ke Yogyakarta yang tak lebih belasan tahun. Di kota ‘Pelajar’ ini ia bersama keponakannya, sedang keluar lainnya sudah memiliki rumah masing-masing. Melihat rumahnya, aku bisa membayangkan begitu sempit dan pengeluaran yang lumayan untuk membayar sewanya. Yang paling mendobrak keteguhanku untuk menerima ceritanya adalah ketika penuturan perihal rutinitasnya. Andalannya hanya satu yaitu becak.

Setiap pagi, setelah mengantar seorang anak—langganannya—pergi ke sekolah, kakek itu mengambil sampah di rumah-rumah yang ada di RT sebelah, lalu membuangkan di tempat pembuangan sampah yang lokasinya lumayan jauh. Seusai dibersihkan, kembali sang kakek menjemput anak itu. Bila matahari telah tepat di atas kepala, pertanda ia akan memulai mengumpulkan rejeki dengan becaknya. Sayangnya, makin hari jumlah penumpang makin berkurang, kawan. Kemajuan teknologi mempengaruhi pendapatannya. Dengan bekal uang seadanya, ia merasa lebih bahagia, hidup tak perlu disesalkan. Rejeki kebaikan sudah sepatutunya disyukuri.

Menangkap wajah lelaki tua yang gigih ini, aku seolah melihat wajah kakek sendiri. Padahal, hingga kini aku sama sekali belum melihat raut senyumnya. Belum ada foto yang bisa kupandangi untuk melihat ketegasan, ketangguhan, dan kesabarannya. Aku bisa membayangkan, bila kakekku di usianya yang renta hidup sebatang kara, misalnya, ia akan berupaya mempertahankan hidup dengan cara yang baik. Menggunakan kemampuan bagian tubuh untuk mendapatkan hasil yang halal.

Maka, semua orangtua—kakek dan nenek—yang kujumpai adalah cahaya yang patutnya dilesapkan ke sanubari. Keistiqomahan untuk tetap berusaha mengalahkan pikiran instan mendapatkan uang, semisal dengan cara meminta-minta. Cahaya yang dengannya aku akan merasa malu dan tertampar atas apa yang telah aku lakukan. Di usia yang masih muda, tenaga masih lumayan, belum setangguh para kakek untuk berusaha menjalani kesuksesan berkehidupan di dunia. Juga sebaiknya, menganggap semua lelaki tua yang ada didekat kita adalah kakek kita, sekalipun ia tak sedarah. Sebab darinya kita bisa bernostalgia pada orang yang sekalipun kita belum pernah menjumpainya. []

Ditulis oleh: Wahyu Wibowo

Reviewer: Yulia Hartoyo

Baca Juga:   MOS : MASA ORIENTASI SESA(A)T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *