Adinda, Maafkan Aku

 

“Teeet. Teeet.”

Terdengar bunyi bel dua kali pertanda waktu istirahat tiba. Murid-murid yang telah kelihatan lelah mengikuti pelajaran sontak tampak berbinar. Mereka mulai berhamburan menuju kantin atau pinggir jalan untuk membeli jajanan.

“Jajan dulu, yuk!” Gadis cilik berambut panjang itu menepuk pundak Adinda.

Si pemilik mata bulat itu menolehkan kepala dan berkata, “terima kasih, Put. Aku sudah bawa bekal.”

“Memang kamu kenapa sih Nda,  kalau aku ajak jajan pasti menolak. Apa kamu nggak punya uang saku?”

Adinda terdiam. Tiba-tiba kepala blank.Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Udah, aku traktir.” Putri bergegas bangkit dari tempat duduk. Ia raih lengan kecil Adinda dan menariknya ke luar kelas menuju kantin sekolah.

Tak ingin membuat kecewa, Adinda menuruti keinginan sahabatnya itu. Ia berjalan mengikutinya menuju kantin sekolah. Tampak para siswa telah berjubel memenuhi ruang kantin untuk membeli jajajan pengisi perut.

“Kamu mau beli apa? Bakso? Soto?” tanya Putri

Gadis bertubuh kurus itu kembali terdiam dengan pandangan mata tertuju kepada Putri, teman baiknya.

“Dinda, kamu mau beliapa? Ditanya kok dari tadi diam. Aku pesenin bakso ya? Enak banget lho,  bakso di kantin ini, ” ujar Putri sambil mengacungkan dua jempol. 

Akhirnya Adinda menganggukkan kepala. Kedua tangannya saling bertautan. Ia mainkan ujung jari-jari berusaha menyembunyikan perasaan.

Melihat anggukan kepala sahabatnya, Putri bangkit dari tempat duduk. Ia berjalan menghampiri pemilik kantin sekolah dan berkata, “Bik Ijah, dua mangkok bakso dan dua gelas es jeruk ya!”

Setelah pesan makan dan minuman, Putri kembali duduk di samping Adinda. Tak berapa lama kemudian, di hadapan dua sahabat itu terdapat semangkok bakso dan segelas minum es jeruk. Kebahagiaan tampak terpancar dari wajah Putri melihat sahabatnya makan dengan lahap.

“Nda, kamu mau nambah?” Mata Putri yang berbinar tak sekejap pun lepas dari Adinda. Ia sangat bahagia melihat Adinda makan bersama di kantin untuk kali pertama.

****

Sudah  dua minggu Putri tidak bertemu Adinda. Rupanya Adinda jatuh sakit. Bahkan kabarnya, Adinda harus opname di rumah sakit.

Putri dan teman-teman sekelas berencana menjenguk Adinda bersama dengan Pak Wika, guru kelas. Mereka sepakat untuk mengumpulkan uang secukupnya untuk membeli buah tangan.

Keesokan hari, mereka pun mewujudkan rencananya. Beberapa teman, termasuk Putri, mewakili satu kelas membesuk Adinda di rumah sakit.

Mengendarai mobil guru kelas, Putri dan teman-teman sampai di rumah sakit. Dengan gesit, Pak Wika berjalan menuju ruang resepsionis untuk menanyakan ruang tempat Putri dirawat.

“Ayo, kita ke Ruang Melati kamar 4!” ajak Pak Wika.

Putri dan teman-teman bergegas mengikuti lelaki bertubuh jangkung itu. Tak berapa lama, sampailahmereka di ruang tempat Adinda di rawat.

Memasuki Ruang Melati Kamar 4, tampak Adinda tergolek lemah di tempat tidur. Matanya sayu. Berbagai macam peralatan medis seperti infus dan alat bantu pernafasan tampak terpasang ditubuh Adinda yang kurus.

Melihat kedatangan teman-teman, Adinda hanya bisa memandang. Tenaganya terlalu lemah untuk berbicara. Terlebih, mulutnya terpasang alat bantu pernafasan.

Melihat kondisi Adinda yang mengenaskan, Pak Wika memberanikan diri bertanya kepada ibunya yang setia menunggui.Wanita berjilbab itu hanya membalas dengan senyum. Kemudian ia mengajak Pak Wika dan teman-teman Adinda ke luar ruangan agar perbincangan mereka tidak terdengar oleh Adinda.

“Dinda, kami ke luar sebentar, ya,”ucap ibu itu sambil membelai kepala Adinda.

Di luar ruang perawatan wanita yang tampak kelelahan itu pun tanpa keberatan menceritakan perihal sakit yang diderita anaknya. Ia tidak ingin ada anak-anak lain yang mengalami hal serupa.

“Adinda menderita kanker usus stadium akhir. Ini adalah kesalahan saya dan saya sangat menyesali. Sejak kecil saya selalu menuruti keinginan Adinda. Ia suka makan jajanan sembarangan. Berbagai macam makanan dan minuman mengandung pengawet, pewarna, perasa, dan zat kimia lain sering ia konsumsi. Akibatnya, ususnya terkena kanker. Dan beberapa waktu lalu, ia tiba-tiba drop. Setelah saya korek keterangan darinya, sakitnya mungkin terpicu kambuh karena makan bakso. Pasti bakso tersebut mengandung banyak penyedap rasa. Padahal, dokter sudah benar-benar melarang keras Adinda makan makanan dengan penyedap rasa.”

Mendengar penjelasan ibunya Adinda, sontak Putri terperanjat. “Ya, Allah. Berarti Adinda selama ini tidak mau jajan karena ia menderita kanker.  Ia berusaha menyembunyikan penyakitnya dari teman-teman termasuk aku. Dan  Adinda kambuh sakitnya karena salahku. Adinda, maafkan aku. Aku tak bermaksud mencelakaimu”, guman Putri dalam hati, dengan penuh rasa bersalah.

 

Baca Juga:   Bedah Buku, atau Pulang?

Ditulis oleh: Widayati,
seorang guru bahasa Inggris yang sedang belajar menulis)

Reviewer: Ghozy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *