5 Masalah Penulis dengan Penerbit

Sumber gambar: kompasiana.com
Penasaran ya? Masalah apaan sih? Hehehe ….
 

 

Santai dulu, apa yang akan teman-teman baca ini bukan sesuatu yang ‘pasti terjadi’. Cuma konon kabarnya sering terjadi, lho gimana? Atau sekadar gosip saja? Semakin digosok justru semakin suiip? Coba kita tengok dulu ya.

 

 

Layaknya hubungan lainnya, hubungan penulis dengan penerbit juga tak selamanya berjalan mulus. Persis seperti suami dan istri, tak selamanya akur-akur saja. Atau hubungan pertemanan, meski sudah berteman sejak duduk di bangku SD sampai kuliah, biasanya ada-ada saja masalah yang dihadapi. Ya kan? Terus apa saja sih masalah yang sering terjadi antara penulis dan penerbit?
 
Heeem … kali ini saya coba menulis dari sisi kelalaian/ kecerobohan—untuk tidak mengatakan kesalahan—yang bisa jadi dilakukan penulis ya:
 
Pertama, masalah awal terjadi karena penulis mengirim satu file naskah kepada dua/lebih penerbit yang berbeda dalam waktu bersamaan. Lebih parahnya kalau di emailnya, penulis mencantumkan berbagai alamat penerbit (cc), sehingga ketika redaksi penerbit membuka emailnya, semuanya tahu kalau email itu dikirim ke banyak penerbit. Duh.
 
Itu benar-benar pernah terjadi. Seorang redaksi sebuah penerbit memposting foto tampilan emailnya yang berisi kiriman naskah dari seorang penulis dan email itu di-cc ke banyak redaksi. Kenapa tindakan penulis tersebut dinilai salah oleh penerbit? Lha gimana tidak bermasalah, coba kalau semua redaksi penerbit menerima naskah tersebut dan mau menerbitkannya? Penulis bingung, kan? Atau tinggal pilih saja penerbit yang disukanya? Eh, yang terjadi justru redaksi akan menolak langsung naskah tersebut.
 
Kasus seperti itu, bisa terjadi lantaran penulisnya baru terjun di dunia kepenulisan, memang lalai/ceroboh, atau memang penulisnya sedang berhemat kuota internet jadi pengin sekali klik terkirim semua deh.
 
Kedua, apa ini? Penulis—entah dengan sengaja atau memang sedang mati gaya—melakukan pengulangan konten di beberapa naskahnya. Memang tidak semua konten sama persis, tetapi di beberapa bagian bab dia sengaja menempelkan paragraf-paragraf yang sama. Kalau redaksi penerbit (editor) yang kebetulan teliti dan bertanya, “Bukankah tulisan ini ada di bagian buku kamu yang berjudul ini?”
 
Dengan santai si penulis menjawab, “Iya, aku masukkan di situ karena pembahasannya sama.”
 
Misalnya ya, di satu buku dengan buku lainnya membahas tentang sedekah, isinya ya begitu-begitu saja. Ini memang sulit dideteksi kalau satu bukunya terbit di penerbit A, sedangkan satu bukunya lagi terbit di penerbit B. Tapi akan bermasalah kalau kedua buku tersebut terbit di penerbit yang sama. Jangan salah pula, pembaca setia akan mudah tahu. Meski efek masalah ini tidak terlalu besar, setidaknya editor dan pembaca jadi tahu kualitas si penulis. Ups.
 
Eh, kalau mau melakukan pengulangan tulisan di beda buku seperti itu, minimal ada keterangan (foot note) saja. Ditulis: tulisan ini diambilkan dari buku saya yang berjudul …. Jadi editor dan pembaca pun menanggapi dengan positif, bahwa ada korelasi isi satu buku dengan buku yang lainnya. Mudah, kan?
 
Ketiga, ini masalah cukup serius, dan di beberapa penerbit tidak ada ampun untuk penulisnya. Apa itu? Plagiat. Sering terjadinya, penulis pendatang baru tidak begitu paham bagaimana aturan mengutip atau dengan sengaja mengambil tulisan orang lain begitu saja. Terutama tulisan dari internet. Parah tanpa upaya menulis ulang dan tidak memberikan keterangan sumbernya, tetapi langsung copas saja. Kalau editor tahu sejak awal, sudah langsung tamat itu naskah. Tetapi bagaimana kalau editor tidak teliti dan bukunya terbit? Ribut.
 
Beberapa waktu lalu terjadi teguran keras dari sebuah penerbit kepada penulisnya lantaran si penulis terbukti telah mengambil tulisan penulis lain. Dari mana penerbit tahu? Rupanya si penulis—yang tulisannya diambil itu—komplain kepada penerbit tersebut. Kebetulan isi bahasannya juga mirip dan ketika dibandingkan memang isinya sama. Nah, yakin cuma kebetulan saja?
Saya sih berpikir liar saja, kenapa penulis berani melakukan copas sembarang begitu? Bisa jadi. Bisa jadi lho. Bisa jadi naskahnya dibeli murah oleh penerbit, dan dia tidak memakai nama aslinya (alias nama palsu atau istilah kerennya nama pena). Ealah.
 
Keempat, ini agak mirip dengan yang kedua tadi, tetapi lebih parah. Seperti apa kasusnya? Si penulis memberikan naskah yang sudah pernah terbit kepada penerbit lain tanpa seizin penerbit yang pertama. Padahal sudah jelas sekali di perjanjian dengan penerbit pertama disebutkan bahwa naskah tersebut tidak boleh diberikan kepada penerbit lain. Eh, nekad.
 
“Ada naskah yang diberikan kepada kami itu sama plekdengan bukunya yang terbit di penerbit lain,” begitu curhat seorang pemilik penerbit kepada saya, “ada juga yang isinya cuma dibolak-balik saja.”
 
Gimana coba? Penulis seperti itu pasti akan bermasalah bila ketemu dengan editor yang teliti. Misal si editor melihat profil si penulis produktif banget menulis buku, lalu iseng ngecek isi buku-bukunya yang masih ada di toko. Lalu kaget deh. Ini penulis bunuh diri, batinnya.
 
Kalau memang mau memberikan naskah yang pernah terbit—meski indie—kepada penerbit lain, pastikan si penulis sudah menarik naskahnya itu. Kalau perlu dibuktikan dengan surat habis masa terbitnya/disertakan surat penarikan naskah itu saat mengirimkan naskahnya. Mudah, kan?
 
Kelima, sikap yang buruk. Aduh kalau soal yang satu itu, kayaknya tidak hanya penulis ya yang bakal mendapat masalah. Siapa pun yang sikapnya buruk, pastinya bakal membuat orang lain tidak betah kerja sama. Kenapa sikap buruk itu bisa terjadi?
 
Bisa jadi, penulis merasa pada posisi yang benar dan marah saat tulisannya diedit editor. Misalnya kasus seperti itu ya. Kemudian belum ada kesepakatan/penyelesaian, tetapi si penulis sudah terburu-buru memposting kasus itu di jejaring sosial. Rame deh. Banyak temannya yang kepo dan akhirnya membully penerbitnya. Kerja sama yang awalnya baik-baik saja berubah sangat runyam dibuatnya. Oleh penerbitnya, si penulis masuk ke dalam daftar penulis bad attitude.
 
Kalau memang ada yang kurang sreg dengan kebijakan penerbit, baiknya diskusi lagi dengan editornya. Mau sama-sama mendengarkan dan mencari solusi demi kualitas karya yang akan diterbitkan. Kalau masih tidak suka dengan keputusan penerbit, lebih baik penulis mencabut naskahnya dan meminta untuk tidak diterbitkan. Clear.   
 

Baca Juga

Baca Juga:   Bedah Buku, atau Pulang?
Apakah ada kelalaian lain yang bisa saja dilakukan oleh penulis? Yups, bisa saja ada. Kalau kamu tahu, silakan tuliskan di kolom komentar di bawah tulisan ini ya. Nah, untuk kelalaian dari sisi penerbit, ditunggu ya tulisan saya berikutnya: 5 Masalah Penerbit dengan Penulis. Coming soon. Hehehe ….
***

 

[] Oleh: Dwi Suwiknyo, penulis buku laris Ubah Lelah Jadi Lillah (sudah dicetak 11.000 eksemplar dalam jangka waktu delapan bulan sejak diterbitkan dan sampai sekarang masih dijual di toko buku Gramedia).

14 thoughts on “5 Masalah Penulis dengan Penerbit

  1. Ini belum bahas kalau penulisnya ngirim file hardcopy. hehe… atau bahas pengantar surat yang bahasanya wew banget. Ini masalah nggak sih buat penerbit? atau malah jadi hiburan? bhahahaha ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *