2 Hari 1 Malam di Semarang (Part 1)

 

Playground Cimory (Doc.Pribadi)

 

Semarang adalah kota yang cukup dekat dari Yogyakarta, sehingga menjadi salah satu wish list saya untuk berlibur bersama anak. Beruntung, suatu hari suami mengajak saya untuk menghadiri pernikahan temannya di Semarang. Jadilah kami berangkat Jumat pagi karena acara kondangan berlangsung di hari Sabtu. Kami memilih transportasi mobil pribadi karena bawaan cukup banyak, dan juga memudahkan untuk berkendara ke tempat acara pernikahan.

 

Saat itu, pukul 10.30 pagi, mobil melaju dari Sleman menuju Jalan Magelang. Ya, kami memilih jalur Jogja-Muntilan-Magelang-Secang-Ambarawa-Bawen-Ungaran-Semarang. Selain jalur ini, teman-teman dapat mengambil alternatif jalan melalui kota Jogja-Klaten-Kartosuro-Boyolali-Ampel-Salatiga-Semarang. Pukul 11.30, kami berhenti di salah satu rest area berupa tempat makan yang dekat dengan masjid, karena suami saya dan sopir harus melaksanakan salat Jumat. Sembari menunggu para pria melakukan kewajiban seorang muslim, saya dan anak saya memesan makan siang. Kami memilih menu ikan bakar, dan udang goreng crispy. Suami juga sudah memesan wader lombok ijo, supaya setelah selesai salat, makanan sudah siap dan dapat langsung disantap.

 

Pesanan kami pun datang, seporsi ikan nila goreng, ikan bakar, ikan wader lombok ijo, dan seporsi sayur beserta lalapan. Makan siang sambil menikmati pemandangan hijau perbukitan, membuat siang itu terasa lebih membahagiakan. Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 13.30, kami memutuskan untuk berhenti di salah satu objek wisata yang sayang bila dilewatkan begitu saja. Teman-teman pasti sudah pernah mendengar namanya, yaitu Cimory Resto and Milk Factory-Dairy Educational Tour. Cimory dikenal sebagai merek susu fermentasi yang banyak disukai. Keberadaan wisata edukasi ini, tentu membuat para penggemarnya rela kemari untuk mengenal Cimory lebih dalam.

 

 

 

Cimory Resto and Milk Factory
Cimory (Doc.Pribadi)
 Tempat ini sering juga disebut sebagai Cimory on the valley. Objek ini merupakan tempat wisata edukasi keluarga yang khusus berisi rangkaian pembuatan produk Cimory mulai dari peternakan sapi, proses produksi, hingga akhirnya menjadi yoghurt atau produk lain.

 

Anak saya senang sekali ketika melihat ornamen serba “sapi” menghiasi tempat ini. Di dekat pintu masuk, teman-teman dapat menemukan semacam supermarket yang menjual berbagai makanan yang terkait dairy product dan pernak-pernik Cimory seperti mug, boneka, kaos dan magnet kulkas. 
Chocomory (Doc.Pribadi)
Agak masuk ke dalam, ada juga toko Chocomory, yaitu tempat penjualan khusus olahan cokelat, dan biskuit yang berasal dari susu Cimory Farm and Factory. Ada banyak pilihan rasa dan jenis cokelatnya lho, bahkan teman-teman dapat mengambil paket yang berbentuk seperti goodie bag. Paket ini tergolong lengkap, berisi dua choco bar, satu kaleng cookies, dan satu bungkus corn flakes. Satu paket tadi seharga 99 ribu rupiah. Ada sih paket lain yang lebih banyak isinya, tentunya harganya pun menyesuaikan.

 

Oh ya, di Cimory juga terdapat restoran dan playgroundlho. Tadinya kami sempat ingin mencicipi menu restoran, tapi enggak jadi karena masih kenyang. 
Resto Cimory (Doc.Pribadi)
Baca Juga:   Liburan Gratis di Pantai Patawana Fakfak Papua

Akhirnya, kami langsung memasuki playgroundyang juga jadi satu dengan peternakan dan kebun. Untuk memasuki area tersebut, pengunjung membayar retribusi sebesar 10.000 rupiah, di mana teman-teman akan mendapatkan voucer yang dapat ditukar dengan yoghurt. Yeay, enggak rugi lah ya, harga 10.000 rupiah dapat minum. 

Setelah menuruni sekian anak tangga, sampailah kami di arena bermain anak-anak. Ada jungkat-jungkit, ada ayunan, dan berbagai permainan lainnya. Tentu saja anak saya riang sekali. Saya juga gembira karena bisa foto-foto bersama mainan berbentuk sapi =D.

Sapi Perah (Doc.Pribadi)

 

Beberapa menit kemudian, kami pun melanjutkan langkah menuju peternakan Cimory. Ada aneka sapi perah yang dapat teman-teman lihat, juga dapat diketahui sejarah atau keunikan sapi tersebut dari tulisan pada plang. Sewaktu memasuki area peternakan, anak saya ternyata takut ketika harus melewati kandang sapi. Padahal kan terkunci gitu ya? Enggak mungkin keluar kandang, hehe. Nah, giliran ke arena kelinci, baru deh berani, sampai kasih makan segala. 
Kandang Kelinci (Doc.Pribadi)
Jadi di lokasi peternakan Cimory ini enggak hanya ada sapi, tapi juga terdapat binatang lain seperti kura-kura, burung, rusa, hingga ikan. Luas tempat ini mencapai 8000 meter persegi lho, sehingga lumayan menguras tenaga bila dijelajahi dengan berjalan kaki. Makanya, saat masuk tadi kami dibekali minuman yoghurt kotakan, karena memang akhirnya tandas juga saking hausnya.
Kebun Cimory (Doc.Pribadi)
Oh ya, di tengah-tengah peternakan tadi, ada kebunnya juga lho. Kebun ini ditanami berbagai tumbuh- tumbuhan, terutama sayuran dan tanaman lain yang dapat digunakan sebagai bahan baku restoran atau makanan hewan ternak. Oleh karena itu, tempat wisata ini penuh dengan pemandangan yang menyegarkan mata, “hijau-hijau” gitu.

 

Setelah puas memberi makan hewan, melihat binatang ternak, dan berjalan-jalan di antara kebun buah dan sayur, sampailah kami pada arena swafoto yang berisi spot-spot menarik. Ada botol cimory ukuran jumbo yang dapat digunakan untuk backgroundfoto, atau teman-teman bisa berfoto di depan air mancur yang ada maskot Cimory-nya. Kami pun beristirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke Semarang.

 

Alhamdulillah, jam 3 sore, sampailah kami di Hotel Louis Kienne Seamarang, hotel yang berada di tengah kota dan letaknya enggak jauh dari lokasi kondangan. Kami salat asar, tidur-tiduran sebentar, lalu mandi. Sempat bingung kalau sudah sore mau jalan-jalan kemana ya di Semarang? Akhirnya di putuskan lah keluar hotel setelah magrib, sekalian mencari makan malam.

 

 

Pasar Semawis

 

Karena agak buta dengan Semarang, maka kami mengandalkan browsing internet untuk menemukan tempat makan dengan banyak pilihan menu. Akhirnya dipilihlah Pasar Semawis atau Waroeng Semawis. Tempat kuliner ini hanya buka pada akhir pekan (Jumat-Minggu) dari jam 18.00- 23.00 WIB. Teman-teman dapat parkir di kantong-kantong parkir terdekat, karena Pasar Semawis ini letaknya di dalam Gang Warung, kawasan Pecinan. Jadi teman-teman harus jalan kaki untuk mencapai tempat tersebut.
Pasar Semawis (Doc.Pribadi)
Dari kejauhan, saya melihat tenda-tenda berjejer di sisi kiri, sementara kursi dan meja berjejer di sisi kanan. Aneka makanan dapat ditemui di sini, mulai dari camilan hingga makan berat. Minumannya pun beraneka ragam, mulai dari minuman panas, hingga berbagai jenis es. Oh ya, perlu diketahui bahwa sejarah dari Waroeng Semawis ini awalnya adalah Pasar Imlek Semawis yang digelar sebagai peringatan 600 tahun laksamana Cheng Ho. Acara ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur, yaitu saat Imlek ditetapkan menjadi hari libur nasional. Nah, satu tahun kemudian, pasar ini tak hanya muncul satu tahun sekali saja, tapi setiap minggu.

 

Waroeng Semawis memang merupakan pusat jajan di Semarang. Hidangan khas Tionghoa, melayu, oriental, hingga makanan asli nusantara, semuanya ada di sini. Saya sempat melongo ketika membaca menu cumi-cumi dan gurita bakar. Kalo cumi-cumi sih, saya termasuk sering memakannya, tapi dalam bentuk cumi bakar sih jarang. Apalagi gurita, wow enggak kebayang lah. Yang unik, kedua hewan laut ini ditusuk-tusukkan ke lidi berukuran besar, sehingga mirip sate. Rasanya pun macam-macam, ada barbeque dan lada hitam. Saya sendiri enggak jadi nyobain, karena antriannya lumayan panjang. Meski harganya terbilang enggak murah (20-30 ribu rupiah per tusuk), tetapi peminatnya banyak juga.

 

Oh ya, karena kelaparan, saya mencari menu nasi. Dapatlah nasi cumi-cumi, lengkap dengan tinta hitamnya. Semangkok nasi cumi seharga 15 ribu, saya makan dengan lahap. Sedangkan anak saya maunya ngemil, sehingga saya memesan takoyaki isi udang, serta pisang penyet dan pukis. 
Takoyaki (Doc.Pribadi)
Buaanyak banget ya? Eh tapi habis lho, soalnya dicemal-cemil.

 

Sebagai informasi, untuk umat muslim memang harus hati-hati jika akan makan di Pasar Semawis, karena kulinernya benar-benar beragam. Ibaratnya kayak kawasan streetfooddi Singapura lah, ada juga menu non halalnya (padahal saya belum pernah ke sana, hehe). Intinya, teman-teman harus bertanya terlebih dahulu kepada penjual, apakah masakannya halal atau tidak, karena di sini menu yang mengandung babi atau minyak babi cukup banyak. Ada sih yang nyata-nyata ditulis babi atau pork gitu, tapi mungkin ada juga yang enggak terpampang di spanduk atau buku menunya.

 

Setelah makan, kami tak langsung pulang ke hotel. Sebenarnya sih anak saya sudah terlihat mengantuk, tapi rasanya nanggung kalau langsung tidur tanpa menikmati malam di Semarang. Untungnya, hotel kami dekat dengan Simpang Lima. Jadilah malam itu kami jalan-jalan dulu di kawasan Simpang Lima.

 

 

Simpang Lima Semarang
Simpang Lima (Doc.Pribadi)
 Simpang Lima Semarang memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan kayak saya. Simpang Lima terletak di pusat kota, sehingga sangat ramai di malam hari. Apalagi dengan ikon tulisan “Simpang Lima” yang menyala, membuat siapapun yang melihatnya, ingin berfoto di sana, termasuk saya. Tahukah teman-teman, bahwa nama asli tempat ini adalah Lapangan Pancasila Semarang? Saya aja baru tahu lho. Ada apa saja di tempat ini? Yang jelas, ada kendaraan hias dengan lampu warna-warni. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari kuda Pegasus, mobil, hingga kereta kencana ala Cinderella. Ada juga sepeda tandem hias, yaitu sepeda yang terdiri dari dua hingga tiga pasang pedal, sehingga dapat dinaiki oleh dua sampai tiga orang.
Kereta Kencana (Doc Pribadi)
             Anak saya jelas memilih model kereta Cinderella. Pemilik kendaraan hias memberi harga 35 ribu rupiah untuk sekali putaran, tetapi saya menawarnya, sehingga didapatkanlah harga 25 ribu rupiah. Lumayan sih ya harganya, sesekali enggak apa-apalah buat anak. Selesai memutari lapangan dengan kereta hias, saya dan anak saya duduk dulu melepas lelah. Padahal sih yang capek suami saya, karena harus menggenjot pedal di kereta hiasJ.

 

Oh ya, kalau teman-teman ingin berburu kuliner di Simpang Lima, tinggal menyeberang jalan ke pusat kuliner. Saya lihat sih cukup banyak pilihan makanan yang dijajakan. Kabarnya, ada menu yang cukup terkenal, yaitu Pecel Mbok Sador. Duh jadi penasaran ingin coba juga. Sayang, malam itu kami sudah kekenyangan makan di Pasar Semawis.

 

            Sehabis menikmati malam di Simpang Lima, kami pun jalan kaki kembali ke hotel. Esok hari ada jadwal kondangan, dan setelahnya, kami akan keliling ke kawasan wisata lainnya. Beberapa tempat yang kami kunjungi adalah Masjid Agung Jawa Tengah, Lawang Sewu, dan pusat oleh-oleh Semarang. Mau tahu seperti apa keseruannya? Baca part 2 nya, ya…

 

 

By Dian Farida Ismyama

 

Blogger, book writer wanna be. 
Kunjungi rumah mayanya di www.ismyama.com 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *